Maulid di Desa Ulo, Tradisi Male Eratkan Silaturahmi
- 20 Agt 2026 17:58 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berlangsung meriah. Tradisi tahunan tersebut tidak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat.
Pantauan RRI.CO.ID, Kamis 20 Agustus 2026, suasana keramaian sudah terasa sejak memasuki wilayah Desa Ulo. Kendaraan tampak memadati jalan desa, sementara warga dari luar desa berdatangan untuk bersilaturahmi dan mengunjungi rumah-rumah keluarga yang telah menyiapkan berbagai hidangan khas untuk para tamu. Suasananya bahkan terasa seperti perayaan Idulfitri, ketika warga saling berkunjung dan menikmati hidangan bersama.
Salah seorang warga Desa Ulo, Masna, mengatakan tradisi tersebut telah dilakukan secara turun-temurun. Menurutnya, setiap keluarga menyiapkan makanan untuk dibawa ke masjid sebagai bagian dari rangkaian perayaan Maulid, sekaligus menyiapkan hidangan di rumah untuk menjamu keluarga dan tamu yang datang. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Kalau musim Maulid, keluarga-keluarga yang jarang bertemu biasanya datang ke Ulo untuk bersilaturahmi. Alhamdulillah, ini menjadi kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarga,” ujar Masna.
Yang membuat tradisi Maulid di Desa Ulo semakin menarik adalah adanya male, yakni bingkisan yang dibawa pulang oleh tamu setelah berkunjung dan menikmati hidangan. Bingkisan tersebut umumnya menggunakan wadah seperti panci, baskom, ember, atau wadah plastik lainnya, yang diisi dengan sokko atau beras ketan, telur, dan makanan lainnya.
Salah seorang warga Bone, Anna, yang setiap tahun menyempatkan diri menghadiri Maulid di Desa Ulo, mengaku suasananya sangat meriah. Ia bahkan menyebut keramaiannya bisa terasa lebih semarak dibandingkan suasana Lebaran. Selain dapat bersilaturahmi dan menikmati hidangan, para tamu juga pulang membawa male sebagai oleh-oleh. “Kalau kita datang ke sepuluh rumah, bisa dapat sepuluh male. Itu yang membuat seru,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Ulo, tradisi Maulid bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas dan budaya masyarakat setempat. Keramaian, hidangan, kunjungan antarkeluarga, hingga tradisi male menjadi ruang bagi warga untuk menjaga kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....