Pembuat Phinisi Tanah Beru Wariskan Keahlian Lintas Generasi
- 14 Agt 2026 14:50 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bulukumba – Di pesisir Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tradisi pembuatan kapal phinisi terus diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu sentranya berada di Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, tempat masyarakat menggantungkan kehidupan dari keterampilan membuat kapal yang telah menjadi bagian dari identitas daerah.
Suwardi Haddise, salah seorang pembuat kapal phinisi di Tanah Beru, mengatakan sekitar separuh masyarakat di wilayah tersebut bekerja sebagai pembuat kapal. Sebagian lainnya berprofesi sebagai nelayan maupun pekerjaan lain yang berkaitan dengan kehidupan pesisir.
“Memang dari turun-temurun, dari dulu. Sekitar lima puluh persen masyarakat di Tanah Beru menjadi pembuat kapal,” ujar Suwardi kepada RRI.CO.ID, Jumat 14 Agustus 2026.
Menurutnya, lama pengerjaan kapal sangat bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan. Kapal berukuran besar dapat dikerjakan hingga bertahun-tahun. Ia menyebut salah satu kapal yang pernah dikerjakannya memiliki nilai sekitar Rp27 miliar dan baru saja rampung setelah melalui proses pengerjaan yang panjang.
“Kalau yang besar seperti yang saya kerjakan, tahunan. Yang saya kerjakan itu biayanya Rp27 miliar, baru rampung selesai. Tapi ada juga kapal sekitar Rp200 juta yang memang cantik,” katanya.
Tradisi tersebut juga memiliki sejarah panjang dalam kehidupan Suwardi. Ia mulai bekerja membuat kapal sejak berusia 17 tahun dan hingga kini, di usia 62 tahun, masih aktif mengandalkan keterampilannya. Pesanan kapal phinisi datang dari berbagai negara, termasuk China dan Prancis, selain pemesan dari Indonesia.
Kapal-kapal yang telah selesai dibuat kemudian berlayar menuju berbagai daerah, seperti Labuan Bajo, Sorong, Raja Ampat, Lombok, dan Bali. Bali menjadi salah satu tujuan utama karena kapal yang tiba di sana selanjutnya dapat digunakan atau dibawa menuju berbagai destinasi di luar negeri.
Keahlian masyarakat Bulukumba dalam dunia perkapalan tidak berdiri sendiri. Terdapat tiga wilayah yang memiliki peran penting dalam tradisi phinisi, yakni Lemo-Lemo yang dikenal dengan keahlian merancang kapal, Desa Ara sebagai pusat keterampilan pembuatannya, serta Bira yang dikenal melahirkan para pelaut tangguh. Tradisi dan keahlian tersebut kemudian melahirkan istilah Panrita Lopi, yang menjadi bagian penting dari identitas Bulukumba sebagai daerah yang melahirkan pembuat kapal dan pelaut ulung.
Jejak kejayaan itu bahkan telah membawa nama Bulukumba hingga ke berbagai penjuru dunia. Kapal tradisional tanpa mesin pernah dibawa hingga Kanada dengan orang Bira sebagai pelautnya dan sebagian besar anak buah kapal berasal dari Tanah Beru. Warisan pengetahuan membuat kapal dan keberanian mengarungi lautan inilah yang membuat Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai sentra phinisi, tetapi juga sebagai daerah yang lekat dengan julukan Panrita Lopi—simbol kejayaan para pembuat kapal dan pelautnya yang diwariskan lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....