Di Balik Alosu, Ada Jejak Budaya Bone

  • 10 Agt 2026 13:28 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Alosu menjadi salah satu bagian penting dalam khazanah budaya masyarakat Bugis Bone, khususnya yang berkaitan dengan tradisi Bissu. Benda berbentuk menyerupai burung tersebut tidak sekadar menjadi perlengkapan tari, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan nilai filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi Bissu, Alosu dikenal sebagai salah satu properti yang digunakan ketika melakukan gerakan tari. Bentuknya dibuat dari bahan alami seperti bambu dan anyaman daun lontar, kemudian dihias menyerupai bentuk unggas, termasuk burung enggang. Di dalamnya dapat ditempatkan material tertentu sehingga menghasilkan bunyi ketika digerakkan.

Budayawan Bone, Andi Yushan Latenritappu, menjelaskan bahwa keberadaan Alosu tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang kebudayaan Bugis, terutama tradisi Bissu yang pernah memiliki posisi penting dalam lingkungan kerajaan Bone. “Alosu bukan sekadar benda yang digunakan dalam tari, tetapi menjadi bagian dari simbol dan identitas kebudayaan Bugis yang diwariskan dari masa ke masa,” ujarnya kepada RRI.CO.ID, Senin 10 Agustus 2026.

Menurutnya, gerakan menggunakan Alosu juga memiliki keterkaitan dengan makna lao-lisu, yang menggambarkan gerakan pergi dan kembali atau dilakukan secara berulang. Karena itu, penggunaan Alosu dalam tari tidak semata-mata untuk menghasilkan bunyi, tetapi menjadi bagian dari rangkaian gerak yang memiliki nilai simbolik. Sejumlah referensi kebudayaan juga mencatat bahwa Sere Alusu merupakan bagian dari tradisi tari Bissu dan pernah digunakan dalam berbagai konteks adat, termasuk penyambutan tamu agung serta kegiatan kerajaan.

“Kalau kita melihat Alosu hanya sebagai perlengkapan tari, kita akan kehilangan cerita besar di baliknya. Di dalamnya ada sejarah, keterampilan masyarakat membuat benda budaya, simbol kehidupan, dan hubungan antara tradisi dengan perjalanan masyarakat Bugis," kata Andi Yushan.

Menurut Andi Yushan generasi muda perlu diperkenalkan bukan hanya pada bentuk Alosu, tetapi juga sejarah dan filosofi yang menyertainya. Keberadaan Alosu juga menunjukkan bagaimana tradisi Bissu memiliki perangkat budaya yang cukup kompleks. Pemerintah dan sejumlah lembaga kebudayaan mencatat Bissu sebagai bagian penting dari warisan budaya Bugis, dengan berbagai perlengkapan dan ritual yang menyertainya.

"Di tengah perubahan zaman, keberadaan tradisi tersebut menghadapi tantangan regenerasi dan perubahan fungsi, sehingga dokumentasi dan edukasi budaya dinilai penting untuk menjaga pengetahuan tersebut tetap hidup," ucap Andi Yushan.

Menurut Andi Yushan, pelestarian Alosu tidak cukup dilakukan dengan menyimpan benda atau menampilkannya dalam pertunjukan. “Yang paling penting adalah mewariskan pengetahuan tentang maknanya. Ketika generasi muda memahami sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya, maka budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi bagian dari identitas yang mereka banggakan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....