Berawal dari Modal Rp.5 Ribu, Donat Lylo Kini Tumbuh dan Buka Lapangan Kerja

  • 11 Agt 2026 20:44 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, PINRANG - Tidak ada yang menyangka, usaha donat yang kini dikenal luas dengan nama Donat Lylo bermula dari sebuah kondisi ekonomi yang nyaris membuat sebuah keluarga menyerah. Berawal dari lilitan cicilan bank yang menumpuk, usaha kafe yang terpaksa gulung tikar, hingga sisa uang di tangan yang hanya bernilai Rp5 ribu, sebuah keputusan sederhana justru menjadi titik balik perjalanan bisnis yang terus berkembang hingga hari ini, Selasa (11/8/2026).

Herman Syah A. Paturusi, atau yang akrab disapa Iren, bersama istrinya, Suhaemi Askin, adalah sosok kunci di balik brand kuliner lokal tersebut. Sebelum terjun ke industri bakery, Iren mengandalkan usaha kafe sebagai sumber utama pembayaran cicilan bank sebesar Rp9 juta per bulan, disokong oleh usaha ayam potong kemitraan.

Namun, kafe yang telah beroperasi selama 11 tahun (2003–2014) terpaksa berhenti beraktivitas akibat penggusuran lokasi yang berdiri di atas tanah keluarga. Kehilangan mata pencaharian utama membuat Iren dan keluarga mulai kesulitan memenuhi kewajiban finansial mereka kepada pihak perbankan.

Dalam kondisi terdesak, Iren berdiskusi dengan sang istri untuk mencari alternatif usaha baru. Melihat keberadaan penjual kue di depan rumah mereka di Jalan Pattimura, Kabupaten Pinrang, Iren mengusulkan agar istrinya membuat jajanan yang dapat dititipkan untuk dijual.

Suatu subuh, Iren mendapati istrinya tengah sibuk mengolah adonan di dapur memanfaatkan sisa bahan baku dan cokelat dari kafe lama. "Saya tersentuh melihat istri saya ikut mengambil tanggung jawab dalam rumah tangga. Padahal, dalam pikiran saya, itu adalah tugas seorang suami," kenang Iren.

Sisa bahan baku tersebut menghasilkan sekitar 40 hingga 60 buah donat yang kemudian dititipkan ke penjual kue dengan sistem bagi hasil—Rp800 untuk pembuat dan Rp200 untuk penjual dari harga eceran Rp1.000. Hanya dalam waktu tiga hingga empat jam, seluruh pasokan donat ludes terjual. "Yang dititipi malah bertanya, 'masih ada stok donatnya?'" ujar Iren.

Melihat potensi pasar yang besar, Iren langsung meminta istrinya meningkatkan volume produksi adonan. "Setelah tahu cepat habis, saya bilang ke istri, 'Emi, kita tambah mi. Nanti dua atau three kilo lagi adonannya. Masalah pemasaran urusan saya,'" tuturnya.

Iren kemudian memperluas jangkauan distribusi hingga ke sekolah-sekolah dan berinovasi pada tampilan produk. Ia menggunakan variasi cokelat warna-warni serta membentuk donat dengan karakter kartun untuk menarik minat konsumen anak-anak.

Semula menggunakan nama Donat Ceria Makaareso, brand usaha tersebut akhirnya bertransformasi menjadi Donat Lylo. Nama ini terinspirasi dari aksi menggemaskan anak ketiga mereka, Aurelio Ali Imran (Lilo), yang saat berusia delapan bulan kerap bersembunyi di sudut lemari dengan wajah berlepotan cokelat usai mengambil donat dari nampan penyimpanan. "Dari situ saya ganti nama menjadi Donat Lilo. Untuk tulisan di logo, kami pakai Lylo supaya lebih keren," kata Iren.

Memulai bisnis dari posisi minus, Iren harus meminjam modal dari kerabat dan rekan-rekannya demi menopang operasional awal. Kendati demikian, ia memegang teguh komitmen pelunasan tepat waktu demi menjaga integritas. "Kalau saya sudah janji satu minggu, saya usahakan satu minggu saya kembalikan. Saya sangat menjaga yang namanya kepercayaan teman," tegasnya.

Konsistensi tersebut membuahkan hasil ketika seorang distributor bahan baku besar berkunjung langsung ke tempat produksinya. Dari pertemuan itu, Donat Lylo mendapatkan fasilitas kredit bahan baku dengan harga distributor serta kesempatan bagi Suhaemi untuk mengikuti pelatihan kuliner langsung dari chef profesional asal Surabaya.

Menjalankan bisnis bersama pasangan tentu tak lepas dari dinamika internal, terutama dalam menentukan harga produk dan strategi pemasaran. "Namanya usaha dalam rumah tangga pasti ada perbedaan pendapat. Kadang bertengkar soal harga, tapi kami tetap hadapi dengan kepala dingin dan mencari jalan keluar bersama-sama," ungkap Iren.

Ketahanan bisnis Donat Lylo kembali diuji saat pandemi Covid-19 merebak, yang memaksa operasional gerai mereka di Sidrap dihentikan sementara dan dipusatkan kembali di Pinrang. Demi menjaga keberlangsungan usaha dan nasib karyawan, Iren memilih berkolaborasi dengan pelaku UMKM lokal tanpa memprioritaskan margin keuntungan besar. "Yang penting cukup untuk makan, cukup untuk gaji karyawan, dan cukup untuk melanjutkan bisnis ini," jelasnya.

Setelah melewati fase panjang yang penuh perjuangan, Iren kini berfokus mempertahankan kualitas dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, sembari berharap usahanya kelak diteruskan oleh anak-anaknya.

Dalam mengarungi dunia wirausaha, Iren membagikan formula suksesnya yang disebut rumus 20-30-50, yakni 20% niat awal, 30% tindakan (action), dan 50% kepasrahan kepada Tuhan. "Tidak perlu hebat untuk menjadi hebat, tapi cukup memulainya. Mulailah... Dari awal saya juga tidak punya dasar," ujarnya memberi dorongan kepada para pelaku UMKM yang tengah menghadapi fase stagnan.

Ia pun berpesan agar para wirausahawan terus berikhtiar dan tidak berkecil hati dalam mengoperasikan bisnis mereka. "Jangan pernah berburuk sangka kepada Tuhan. Kita hanya bisa bekerja keras dan tidak pernah putus asa. Percayalah, rezeki tidak akan tertukar," tutup Iren.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....