Memasak Bukan Lagi Soal Gender

  • 08 Agt 2026 21:27 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Memasak selama ini kerap dianggap sebagai pekerjaan yang identik dengan perempuan. Pandangan tersebut masih cukup melekat dalam kehidupan masyarakat, terutama ketika aktivitas memasak ditempatkan sebagai bagian dari pekerjaan domestik. Namun, perkembangan dunia kuliner menunjukkan bahwa anggapan tersebut perlahan bergeser. Di berbagai restoran dan hotel, profesi koki justru banyak dijalankan oleh laki-laki.

Akademisi sekaligus Pemilik Rumah Makan Deceng Kabupaten Bone Prof. Dr. H. Syahabuddin, M.Ag., mengatakan dunia kuliner saat ini tidak lagi melihat pekerjaan memasak berdasarkan jenis kelamin. Menurutnya, siapa pun yang memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas dalam mengolah makanan memiliki kesempatan yang sama untuk menekuni profesi tersebut.

“Sekarang kita tidak bisa menutup mata, sudah banyak yang membuat makanan enak bukan hanya perempuan. Banyak koki laki-laki yang profesional. Jadi yang dicari sekarang bukan apakah dia laki-laki atau perempuan, tetapi kemampuan dan profesionalismenya,” ujarnya saat dikonfirmasi RRI.CO..ID, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Ia menilai, perkembangan industri kuliner telah mengubah cara masyarakat memandang pekerjaan memasak. Di restoran maupun hotel, seorang koki dituntut memiliki keterampilan khusus, memahami teknik pengolahan makanan, menjaga cita rasa, hingga mampu mengikuti perkembangan selera konsumen. Karena itu, kemampuan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan seseorang di bidang kuliner.

“Kalau kita berbicara profesionalisme, siapa pun yang memasak, selama memiliki ilmu dan skill, tentu bisa menghasilkan makanan yang disukai. Bahkan di banyak negara, termasuk di kawasan Arab, laki-laki juga banyak yang bekerja sebagai juru masak,” katanya.

Menurutnya, budaya Indonesia yang sejak lama mengaitkan pekerjaan dapur dengan perempuan perlu dipahami secara lebih terbuka. Memasak memang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan keluarga dan tradisi masyarakat, tetapi ketika masuk ke ranah profesi, pekerjaan tersebut memiliki standar kompetensi yang sama seperti bidang pekerjaan lainnya. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan untuk berkembang berdasarkan kemampuan masing-masing.

Prof. Syahabuddin menambahkan, persamaan kesempatan dalam pekerjaan menjadi bagian penting dalam perkembangan dunia usaha saat ini. Pelaku usaha kuliner yang mampu mempertahankan kualitas, berinovasi dan menyesuaikan diri dengan selera masyarakat akan lebih mampu bertahan. Dengan demikian, dapur bukan lagi sekadar ruang domestik yang identik dengan perempuan, melainkan juga menjadi ruang profesional yang terbuka bagi siapa saja yang memiliki kompetensi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....