Sebanyak 95 Pendamping PKH Bone Jemput Bola Calon Siswa Sekolah Rakyat

  • 25 Jun 2026 10:05 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Sebanyak 95 pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Bone diterjunkan untuk melakukan penjangkauan calon peserta didik Sekolah Rakyat melalui metode door to door dan home visit. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Ketua Tim PKH Kabupaten Bone, Sudasman, mengatakan penjangkauan telah berlangsung sejak Mei 2026 dan masih berlanjut hingga Juni. Sebelum turun ke lapangan, para pendamping terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait program Sekolah Rakyat.

Menurutnya, proses penjangkauan dilakukan secara langsung ke rumah calon peserta didik yang masuk dalam daftar awal aplikasi Setara. Sasaran utama berasal dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) kategori desil 1 dan desil 2 atau kelompok miskin ekstrem dan miskin.

"Teman-teman pendamping PKH melakukan penjangkauan langsung ke lapangan. Kami mendatangi rumah warga untuk memastikan kondisi calon siswa sekaligus memberikan pemahaman kepada keluarga terkait Sekolah Rakyat," ujar Sudasman, Rabu 24 Juni 2026.

Ia menjelaskan, penjangkauan tidak hanya terbatas pada nama yang tercantum dalam daftar awal. Jika ditemukan anak yang layak masuk kategori miskin namun belum terdata, pendamping tetap dapat mengusulkan dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah desa atau kelurahan.

Penjangkauan dilakukan di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Bone. Meski demikian, tidak semua desa dan kelurahan memiliki calon peserta didik yang berminat atau memenuhi persyaratan untuk mengikuti program tersebut.

Sudasman mengakui salah satu kendala terbesar di lapangan adalah masih banyak orang tua yang enggan melepas anaknya untuk bersekolah di sistem asrama atau boarding school. Sebagian orang tua merasa berat karena faktor usia anak maupun karena anak masih membantu pekerjaan keluarga di rumah.

Untuk mengatasi hal tersebut, para pendamping PKH menggandeng pemerintah desa, kepala dusun, hingga tokoh masyarakat untuk melakukan pendekatan persuasif. Upaya tersebut dinilai cukup efektif karena sejumlah keluarga yang awalnya menolak akhirnya bersedia mendaftarkan anaknya ke Sekolah Rakyat.

Saat ini, Sekolah Rakyat menyediakan masing-masing 90 kursi untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Hingga tahap pertama penjangkauan, jumlah calon siswa SMA yang berhasil dijangkau mencapai 100 orang, sedangkan SMP mencapai 120 orang, sementara kuota SD baru terisi 46 calon peserta didik.

Sudasman menambahkan, prioritas utama program ini adalah anak-anak yang putus sekolah, belum pernah bersekolah, dan mereka yang rentan putus sekolah. Ia menilai program Sekolah Rakyat mulai mendapat respons positif karena banyak siswa yang telah masuk mengaku betah dan mendapatkan pengalaman belajar yang sebelumnya tidak mereka peroleh di lingkungan keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....