Tradisi Asyura Bugis Bone, Syariat dan Budaya Menyatu
- 24 Jun 2026 19:45 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Momentum 10 Muharram atau Hari Asyura yang bertepatan pada 25 Juni 2026 Besok, memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Bone. Selain dikenal sebagai hari yang dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah, Asyura juga menjadi ruang pertemuan antara nilai-nilai keislaman dan tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Ustaz Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I., menjelaskan bahwa berbagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat Bugis pada bulan Muharram sejatinya merupakan bentuk ekspresi budaya yang dapat menjadi sarana memperkuat nilai-nilai keagamaan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
“Puasa Asyura adalah ibadah yang memiliki dasar yang kuat dalam syariat. Sementara tradisi yang tumbuh di masyarakat dapat menjadi media untuk memperkuat rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial,” ujar Asriady saat dikonfirmasi rri.co.id, Rabu 24 Juni 2026.
Salah satu tradisi yang masih lestari adalah pembuatan bella pitunrupa atau bubur tujuh rupa. Bubur yang diolah dari tujuh jenis hasil bumi atau diberi tujuh macam warna tersebut tidak hanya disajikan sebagai menu berbuka puasa, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki pertanian (purani masangki) dan kesuburan tanah yang mereka miliki.
“Esensi bella pitunrupa bukan sekadar makanan. Di dalamnya terdapat pesan tentang syukur kolektif, penghormatan terhadap hasil bumi, serta harapan agar keberkahan terus menyertai kehidupan masyarakat,” kata Asriady.
Selain itu, masyarakat Bugis juga mengenal tradisi membeli perlengkapan rumah tangga seperti ember, gayung (sero’), dan baskom pada 10 Muharram. Menurut Asriady, jika dipahami dari sudut pandang budaya, tradisi tersebut mengandung simbol kesiapan menyambut rezeki dan berkah di tahun baru Hijriah.
“Ember, gayung, dan baskom adalah wadah yang digunakan untuk menampung air. Dalam pandangan budaya Bugis, air melambangkan kehidupan dan rezeki yang mengalir. Karena itu, membeli wadah baru dimaknai sebagai kesiapan menampung rezeki dan peluang baru dengan wadah yang bersih dan kokoh,” jelasnya.
Namun demikian, Asriady mengingatkan agar masyarakat tetap menempatkan ibadah sebagai prioritas utama dalam memperingati Asyura. Ia menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan puasa sunah Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram, memperbanyak sedekah, serta menghidupkan tradisi mabbaca-baca melalui doa bersama dan silaturahmi.
“Tradisi budaya hendaknya menjadi pelengkap yang memperindah ibadah, bukan menggantikan substansinya. Jika puasa, sedekah, doa bersama, dan silaturahmi berjalan seiring, maka Asyura akan menjadi momentum yang memperkuat hubungan manusia dengan Allah sekaligus mempererat persaudaraan dalam masyarakat,” tutup Ustaz Asriady.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....