Stigma Jadi Tantangan Rekrutmen Siswa Sekolah Rakyat
- 17 Jun 2026 08:33 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Proses penerimaan peserta didik di Sekolah Rakyat Terintegrasi 61 Bone memiliki mekanisme berbeda dibandingkan sekolah pada umumnya. Tidak melalui pendaftaran terbuka, calon siswa dijaring melalui pendataan yang dilakukan pemerintah terhadap keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk kategori desil 1 dan desil 2. Dalam prosesnya, sejumlah tantangan ditemukan di lapangan.
Ketua Tim Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Bone, Sudasman, S. Pd.I, mengatakan tantangan pertama yang dihadapi adalah persoalan data sosial ekonomi masyarakat. Menurutnya, masih ditemukan kasus ketidaksesuaian data yang menyebabkan adanya warga yang seharusnya masuk sasaran namun belum tercatat, maupun sebaliknya. “Yang pertama itu terkait dengan data. Data tentang strata sosial ekonomi nasional itu masih ada yang exclusion error dan inclusion error,” ujar saat menjadi narasumber di Program Bincang Siang RRI Bone Selasa, 16 Juni 2026.
Selain persoalan data, dukungan keluarga juga menjadi tantangan tersendiri. Sistem pendidikan berasrama yang diterapkan Sekolah Rakyat membuat sebagian orang tua belum siap berpisah dengan anaknya. Tim PKH bersama pihak terkait harus memberikan pemahaman bahwa konsep boarding school diterapkan untuk mendukung pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pengembangan keterampilan hidup siswa.
Tantangan berikutnya datang dari calon siswa itu sendiri. Sudasman mengungkapkan, tidak sedikit anak yang sebelumnya putus sekolah merasa malu untuk kembali belajar karena telah lama meninggalkan bangku pendidikan. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pendekatan secara persuasif agar mereka kembali memiliki semangat melanjutkan pendidikan. “Terkadang anak yang ditemukan putus sekolah merasa malu kembali bersekolah karena sudah lama berhenti. Ini butuh perjuangan dari teman-teman untuk membujuk mereka agar tetap melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat,” katanya.
Di lapangan, tim juga menemukan sejumlah calon siswa yang belum memiliki dokumen kependudukan maupun data pendukung lainnya. Sebelum proses penjajakan dan verifikasi dilakukan, petugas terlebih dahulu membantu melengkapi administrasi yang diperlukan agar anak tersebut dapat masuk dalam proses seleksi penerimaan.
Sudasman menambahkan, tantangan lainnya adalah masih adanya stigma di masyarakat yang menganggap sekolah gratis identik dengan kualitas yang rendah. Padahal, menurutnya, Sekolah Rakyat Terintegrasi 61 Bone didukung tenaga pendidik dan pendamping yang direkrut secara profesional oleh Kementerian Sosial, dengan fasilitas pendidikan, asrama, kebutuhan harian, hingga pengembangan bakat siswa yang ditanggung pemerintah. Karena itu, ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa Sekolah Rakyat hadir bukan sekadar memberikan akses pendidikan gratis, tetapi juga menyiapkan lingkungan belajar yang berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....