Menolak Padam, Collipujie Hidupkan Spirit Peradaban Leluhur Bugis
- 12 Jun 2026 13:22 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Akar budaya Bugis Bone perlahan telah mulai tergerus oleh zaman yang kian modern. Derasnya arus modernisasi itu membuat generasi muda seolah tak kenal dengan jati dirinya sebagai “Manusia Bugis”. Melihat fenomena itu, organisasi kemasyarakatan, Corong Literasi, Pusat Kajian dan Edukasi (Collipujie) Bone menggelar diskusi budaya bertajuk “Berbudaya, Berdaya, Berjaya” yang menghadirkan Pemerhati Budaya, H.Andi Yusman Batara Aji. Andi Yusman mengatakan salah satu krisis terbesar yang dihadapi masyarakat saat ini bukan krisis ekonomi, melainkan krisis kesadaran sejarah.
“Ketika generasi mulai melupakan asal-usul, nilai dan perjuangan para pendahulunya, maka perlahan identitas dan karakter peradaban pun ikut terkikis. Karenanya, generasi hari ini perlu mengenal dan merawat warisan dan jejak kearifan para pendahulu”, ungkap Andi Yusman kepada rri.co.id, Jumat, 12 Juni 2026.
Ketua Umum Collipujie, Andi Afdhal Dwi Putra mengaku resah dengan anak-anak muda yang seolah menjauh dari budayanya sendiri. “Kami mencoba untuk membangkitkan semangat pelestarian budaya dan penguatan literasi sejarah melalui diskusi budaya, observasi situs-situs budaya dan penerbitan buku berbasis kearifan lokal”, jelas Andi Afdhal.
Menurut Andi Afdhal, program-program tersebut diharapkan mampu menjembatani khazanah kebijaksanaan masa lalu dengan tantangan masa depan yang semakin kompleks. “Selain itu, Colliepujie juga akan menjadi wadah kolaborasi para akademisi, budayawan, penulis, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat umum untuk bersama-sama membangun kesadaran sejarah serta memperkuat identitas kebudayaan Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Bone”, ujarnya.
Andi Afdhal pun menegaskan Collipujie bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, melainkan sebagai ruang intelektual, kebudayaan, dan edukasi yang berorientasi pada penguatan karakter generasi melalui warisan nilai leluhur Bugis. "Peradaban tidak lahir dari kemegahan bangunan, melainkan dari kemampuan suatu masyarakat menjaga ingatan kolektifnya”, ujarnya.
Dalam diskusi budaya yang dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus itu, Collipujie berkomitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai luhur kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan. “Juga untuk melestarikan warisan nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan Bugis agar tidak hilang ditelan zaman," ungkapnya.
Adapun nama Colliepujie diambil dari Colliq Pujie, seorang cendekiawan perempuan yang memiliki jasa besar dalam penyelamatan naskah epik I La Galigo dan berbagai manuskrip lontaraq Bugis. Kiprahnya dalam dunia literasi dan kebudayaan menjadikan namanya simbol kecerdasan, keteguhan, serta dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....