Duta Pelajar Dorong Jiwa Kepemimpinan Pelajar
- 01 Jun 2026 20:45 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone – Duta Pelajar Sulawesi Selatan 2026, Muhammad Rifqi Al Faritsi, mendorong generasi muda, khususnya pelajar di Kabupaten Bone, untuk berani mengambil peran dan mengembangkan jiwa kepemimpinan sejak dini. Menurutnya, Bone memiliki banyak pelajar yang berpotensi menjadi pemimpin, namun masih banyak yang belum berani menunjukkan kemampuannya.
Rifqi menilai pelajar Bone memiliki semangat, idealisme, dan keberanian untuk bermimpi besar. Namun, tidak sedikit yang memilih untuk tetap berada di balik layar karena merasa terbebani oleh ekspektasi untuk menjadi sehebat tokoh-tokoh besar yang lahir dari daerah tersebut. “Jadi bukan kurang pemimpin, tapi banyak pemimpin potensial yang belum berani naik ke panggungnya sendiri,” kata Rifqi kepada RRI.CO.ID, Senin, 1 Juni 2026.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa tantangan yang membuat pelajar ragu tampil sebagai pemimpin, di antaranya rasa takut dihakimi, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, serta pola pikir yang lebih berorientasi pada hasil daripada proses. Menurutnya, keraguan terhadap diri sendiri sering kali menjadi hambatan terbesar dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
Rifqi menegaskan bahwa seorang pemimpin masa depan harus memiliki tiga kualitas utama, yaitu integritas, empati, dan keberanian untuk terus belajar. “Tidak ada pemimpin yang lahir langsung hebat. Yang ada adalah mereka yang berani gagal, melakukan evaluasi, lalu terus bertumbuh,” ujarnya.
Untuk membangun rasa percaya diri, Rifqi menyarankan pelajar memulai dari langkah-langkah kecil, seperti melatih kemampuan berbicara di depan cermin, berani menyampaikan pendapat di lingkungan terdekat, serta fokus pada pesan yang ingin disampaikan daripada rasa takut akan penilaian orang lain. Ia menekankan bahwa percaya diri bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada.
Lebih lanjut, Rifqi mengajak pelajar Bone untuk menjadi penerus nilai-nilai luhur para tokoh terdahulu dengan cara yang relevan di era saat ini. Ia juga menilai krisis terbesar generasi muda bukanlah kurangnya kemampuan memimpin, melainkan kurangnya keberanian untuk mengambil peran. “Yang kita butuhkan sekarang bukan 100 orang paling pintar, tetapi 1.000 orang yang berani berkata, ‘Saya siap dan saya mau mencoba’. Pemimpin sejati lahir bukan saat dia paling siap, tetapi saat dia berani melangkah,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....