Kurangnya Minat Anak Muda terhadap Bahasa Bugis, imbas Pergeseran Bahasa

  • 22 Mei 2026 20:35 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Pelestarian bahasa daerah di era modernisasi menghadapi tantangan ditengah dominasi bahasa Indonesia, bahasa gaul dan bahasa asing. Fenomena inipun berimbas pada tren penurunan minat terhadap penggunaan bahasa daerah, khususnya Bahasa Bugis.

Warga Bone, Rahma mengatakan sebagian masyarakat desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone masih menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-hari mereka. Lain halnya dengan orang tua milenial dan gen Z yang lebih memilih membiasakan anak-anaknya menggunakan bahasa Indonesia.

Fenomena ini terjadi, lantaran adanya rasa takut jika kelak anaknya hanya akan fasih berbahasa Bugis. “Sejak dini mereka mengajari anak-anaknya bahasa Indonesia supaya mudah berkomunikasi dan beradaptasi kalau sekolah di kota”, ungkap Rahma kepada rri.co.id, Jumat, 22 Januari 2026.

Warga Bone lainnya, Putri menjelaskan penggunaan bahasa Bugis seolah terpinggirkan, terlebih saat ini banyak anak muda yang lebih bangga menggunakan bahasa lainnya daripada bahasa daerahnya sendiri. “Anak muda sekarang tidak percaya diri pakai bahasa Bugis karena mereka terkesan kuno dan sering diejek sama temannya”, ujarnya.

Putri menyebut jumlah penuturnya pun semakin berkurang karena bahasa daerah tidak lagi dianggap sebagai jati diri, melainkan hanya menjadi simbol semata. “Bagaimana kita mau mencintai bahasa Bugis, kalau mereka seperti tidak kenal dengan budayanya sendiri ?”, kata Putri.

Sedangkan sebagai Mahasiswa, Afni menilai anak muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris atau bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun dalam pergaulan. “Gen Z sekarang hanya sebatas paham, tapi kesulitan untuk mengucapkannya karena bahasa Bugis hanya dipakai dalam lingkungan dan orang-orang tertentu saja”, kata Afni.

Dikatakan Afni, perkembangan teknologi dan media sosial juga menjadi salah satu penyebab menurunnya penutur bahasa Bugis. “Kondisi ini bisa mengancam keberadaan dan kelestarian bahas Bugis di masa yang akan datang”, tuturnya.

Menurutnya, lingkungan memiliki pengaruh besar dalam mempertahankan eksistensi bahasa daerah. “Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat mulai membiasakan penggunaan bahasa Bugis kembali, maka generasi Z akan lebih mudah mencintai dan melestarikan bahasa Bugis sebagai bagian dari identitas budaya mereka”, tegas Afni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....