Mahasiswi diduga Bunuh Diri di Unhas Jadi Pengingat Kesehatan Mental Mahasiswa
- 22 Mei 2026 09:41 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Penemuan mayat di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin pada Senin, 18 Mei 2026, menjadi sorotan mahasiswa dan memunculkan kembali pembahasan mengenai kesehatan mental di lingkungan kampus. Peristiwa tersebut menimbulkan rasa duka sekaligus kekhawatiran mahasiswa terhadap tekanan yang dialami selama menjalani perkuliahan.
Mahasiswa KPI IAIN Bone, Muhammad Rayhan, mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa kehidupan kampus tidak selalu berjalan baik seperti yang terlihat dari luar. “Peristiwa tersebut jadi pengingat untuk kita sebagai mahasiswa bahwa ada banyak hal yang tidak terlihat di balik kehidupan kampus yang tampak baik-baik saja,” ujarnya, Jumat, 22 Mei 2026.
Rayhan menilai tekanan akademik yang dihadapi mahasiswa saat ini semakin berat, terutama ketika memasuki semester akhir. Selain tugas kuliah dan tuntutan akademik, mahasiswa juga dihadapkan pada persoalan ekonomi, aktivitas organisasi, hingga ketidakpastian masa depan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis apabila tidak diimbangi dengan dukungan lingkungan yang baik.
Hal serupa disampaikan Putri, mahasiswa KPI IAIN Bone lainnya yang mengaku kaget dan sedih atas kejadian tersebut. Ia mengatakan peristiwa itu cukup memengaruhi rasa aman mahasiswa di lingkungan kampus. “Kampus seharusnya menjadi tempat belajar yang aman, jadi ketika ada kejadian seperti ini tentu membuat mahasiswa merasa khawatir,” katanya.
Menurut Putri, perhatian kampus terhadap kondisi psikologis mahasiswa masih perlu ditingkatkan. Ia menilai layanan konseling menjadi hal penting karena masih banyak mahasiswa yang takut bercerita akibat khawatir dianggap lemah atau dihakimi oleh lingkungan sekitar.
Selain itu, Putri juga menyoroti pengaruh media sosial yang membuat sebagian mahasiswa kerap membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu rasa tertinggal, tekanan batin, hingga menurunkan rasa percaya diri mahasiswa dalam menjalani kehidupan perkuliahan.
Di sisi lain, kedua narasumber menilai stigma yang menyebut generasi Z lebih rapuh secara mental tidak sepenuhnya benar. "generasi sekarang justru lebih terbuka membicarakan kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Kami terbuka untuk diajak berdiskusi meskipun ada hal hal yang membuat kami malas merespon," ungkap Putri.
Pasca peristiwa tersebut, mahasiswa berharap pihak kampus dapat lebih peka terhadap kondisi psikologis mahasiswanya melalui pendampingan serta layanan konseling yang lebih aktif dan mudah diakses. Peristiwa ini juga menjadi pengingat penting bahwa kesehatan mental mahasiswa perlu mendapat perhatian bersama agar mahasiswa tidak merasa sendirian ketika menghadapi tekanan akademik maupun persoalan pribadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....