Pinrang Gelar Lomba Bertutur Tingkat Daerah 2026

  • 20 Mei 2026 22:07 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Pinrang — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menggelar Lomba Bertutur tingkat daerah sebagai instrumen penguatan budaya literasi sejak usia dini. Langkah ini ditujukan untuk membangun basis karakter, kompetensi komunikasi, dan nalar kritis generasi muda di tengah kuatnya penetrasi ruang digital.

Agenda kompetisi literasi ini dibuka secara resmi oleh Bunda Literasi Kabupaten Pinrang, Andi Sri Widiati A. Irwan di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Pinrang. ia menegaskan bahwa esensi dari lomba bertutur ini bukan semata-mata berorientasi pada pencapaian gelar juara, melainkan menjadi ruang stimulasi mental dan psikologis anak.

Menurut Sri Widiati, keterampilan bertutur (storytelling) memiliki korelasi linear terhadap tingkat kepercayaan diri anak. Melalui penuturan narasi, anak-anak dilatih mengonstruksi pemikiran, mengasah kemampuan berbicara di depan publik, serta mendalami pesan-pesan moral secara mandiri.

“Melalui cerita dan bertutur, anak-anak belajar menyampaikan pesan kebaikan, memahami nilai kehidupan, menghargai budaya daerah, dan membangun karakter positif dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sri Widiati dalam sambutannya, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menambahkan, masifnya perkembangan teknologi mutakhir tidak boleh menggeser kebiasaan membaca konvensional ataupun tradisi lisan yang edukatif. Sebaliknya, ekosistem digital seharusnya diutilisasi secara bijak sebagai medium akselerasi literasi agar generasi muda tidak kehilangan jangkar identitas kebudayaan lokalnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Widiati juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi segitiga antara lingkungan keluarga, satuan pendidikan, dan pemerintah daerah. Keterlibatan aktif orang tua dan guru dalam mendampingi aktivitas membaca anak dinilai menjadi fondasi utama dalam memitigasi risiko penurunan minat baca global.

Pemerintah Kabupaten Pinrang berharap inisiatif ini mampu mencetak pelopor-pelopor literasi baru di tingkat komunitas terkecil. Dengan terbangunnya kebiasaan membaca dan berpikir kritis sejak dini, daerah optimistis dapat melahirkan sumber daya manusia yang adaptif serta memiliki daya saing tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....