Dinkes Ajak Masyarakat Lengkapi Vaksinasi Anak Via Imunisasi Kejar

  • 13 Mei 2026 15:24 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Imunisasi kejar (catch-up immunization) adalah upaya melengkapi status imunisasi anak yang terlewat atau tertunda agar sesuai jadwal. Program ini krusial untuk anak usia 9-59 bulan guna mencegah penyakit berbahaya seperti campak, rubella, dan polio.

Kepala Bidang Pencegahan & Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bone, dr. Kasmawar Abbas, DK menjelaskan bagi anak yang status imunisasinya terlewat atau tertinggal karena sesuatu hal dan kondisi. “Kadang kan ada yang tidak sempat datang karena demam, ayo silakan kembali ke posyandu, pustu, poskes atau di puskesmas agar imunisasi anaknya dapat diberikan pada bulan itu”, jelas Mawar kepada rri.co.id, Selasa, 12 Mei 2026.

Sedangkan untuk anak yang terlewat, menurut Mawar masih bisa mengejar imunisasinya itu dengan imunisasi kejar (catch up). “Akan tetapi ada hal yang tidak bisa dikejar ya, misalnya pemberian HB 0 untuk hepatitis. Itu hanya diberikan untuk bayi lahir < 24 jam”, lanjut dr. Mawar.

Selanjutnya yaitu, imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) untuk penyakit TBC, hanya diberikan untuk anak dibawah usia 12 bulan. “Ada namanya rota virus yang mencegah terjadinya diare akibat infeksi virus rota yang hanya diberikan pada bulan kedua, ketiga dan keempat, jadi dibawah 6 bulan itu, sudah tidak bisa dikejar”, ujarnya.

Selain daripada imunisasi tersebut, lanjut Mawar, misalnya anak usia sekolah di kelas 1, 2 dan 5, masih bisa melengkapi imunisasi yang tidak terselesaikan ketika anak berada di usia 5 tahun atau 59 bulan. “Pemberian Vaksin campak 1x, DT untuk mencegah difteri dan tetanus 1x. Selanjutnya yang akan dilakukan, bukan catch up lagi tapi berdasarkan kebutuhan”, ungkapnya.

Lebih jauh dijelaskan, seperti imunisasi yang baru-baru telah dilakukan, diperuntukkan bagi seluruh tenaga medis di Kabupaten Bone yang memiliki resiko tinggi terpapar kasus campak. “Meskipun sudah diberikan di usia balita, kita berikan lagi di usia sekarang”, kata Mawar.

Hal itu disebabkan karena ada potensi tingginya kasus luar biasa (KLB) terjadi pada mereka dengan kelompok-kelompok kerja beresiko. “Yang kemungkinan besar memang imunitas tubuhnya perlu di booster lagi, sehingga diberikan lagi 1x dosis campak”, tutur Mawar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....