BBM Naik, UMKM Bone Terjepit Biaya Produksi dan Daya Beli
- 30 Apr 2026 09:34 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai menekan pelaku usaha di Kabupaten Bone, terutama sektor UMKM yang harus memilih antara menaikkan harga atau mempertahankan pelanggan. Dampaknya tidak hanya pada biaya produksi, tetapi juga langsung terasa pada penurunan omzet.
Ketua HIPMI Bone, Andi Sinrang, menyebut tekanan terbesar justru terjadi di sisi konsumen yang akhirnya memengaruhi daya beli. Kondisi ini memaksa pelaku usaha menyesuaikan strategi agar tetap bertahan. “Kalau pengusaha sebenarnya tinggal menyesuaikan HPP, tapi ujung-ujungnya tetap customer yang terdampak,” ujarnya, Rabu, 29 April 2026.
Ia menjelaskan, lonjakan harga BBM memicu kenaikan bahan baku di berbagai sektor. Namun, banyak pelaku usaha memilih tidak langsung menaikkan harga jual demi menjaga pasar. “Banyak yang tidak langsung naikkan harga, tapi profitnya yang dikurangi. Dari yang tadinya 100 persen, sekarang bisa tinggal 70 sampai 80 persen,” jelasnya.
Selain margin yang menyusut, omzet penjualan juga mengalami penurunan seiring melemahnya daya beli masyarakat. Produksi pun ikut dikurangi untuk menekan risiko kerugian. “Produksi juga ikut turun. Misalnya sebelumnya bisa 10 unit, sekarang mungkin hanya 7 unit karena orang berpikir ulang untuk membeli,” tambahnya.
Sektor usaha dengan perputaran harian seperti food and beverage (F&B) dan retail menjadi yang paling terdampak. Bahkan, sebagian pelaku usaha kecil mulai merasakan tekanan ganda dari kenaikan biaya dan turunnya penjualan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....