Tantangan Tari Tradisional di Era Digital
- 29 Apr 2026 13:58 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone — Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, pelestarian tari tradisional menjadi tantangan serius, khususnya bagi generasi muda. Fenomena ini turut disoroti oleh penggiat tari Bone, Andi Muhammad Yunus, dalam perbincangan di RRI Bone, Rabu 29 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Tari Internasional.
Andi Muhammad Yunus yang juga pimpinan Sanggar Seni Budaya Arung Palaka menegaskan pentingnya menjaga eksistensi tari tradisional di tengah gempuran budaya luar yang semakin mudah diakses melalui media sosial. Menurutnya, kondisi ini membuat generasi muda cenderung lebih familiar dengan tarian modern dibandingkan warisan budaya daerahnya sendiri.
“Di era sekarang, anak-anak kita jauh lebih cepat mengenal dan meniru tari-tari modern dari media sosial. Ini tantangan besar, jangan sampai mereka justru tidak tahu tari tradisional dari daerahnya sendiri,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Bone memiliki kekayaan tari tradisional yang sarat makna dan nilai budaya, seperti tari Pajoge, Pajaga Andi, hingga tari Alusu. Jika tidak diperkenalkan sejak dini, maka bukan tidak mungkin generasi mendatang akan kehilangan keterhubungan dengan identitas budayanya.
“Jangan sampai anak muda Bone tidak tahu apa itu tari Pajoge, tari Alusu, atau tari-tari tradisi lainnya. Ini adalah warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan,” tegas A. Yunus.
Menurutnya, peran guru dan pelaku seni sangat krusial dalam menjawab tantangan tersebut. Dibutuhkan inovasi dalam penyajian pendidikan seni, khususnya tari, agar lebih menarik dan relevan dengan karakter generasi Z yang akrab dengan teknologi digital.
A. Yunus menilai bahwa pendekatan kreatif, seperti memadukan unsur tradisi dengan kemasan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai aslinya, bisa menjadi salah satu solusi. Dengan demikian, generasi muda tetap merasa dekat dan tertarik untuk mempelajari tari tradisional.
Sebagai bentuk komitmen, Sanggar Seni Budaya Arung Palaka terus berupaya melestarikan tari tradisional melalui pelatihan rutin kepada para anggotanya. Di sanggar tersebut, para peserta tidak hanya diajarkan teknik gerak, tetapi juga pemahaman akan makna dan filosofi di balik setiap tarian.
“Kami di sanggar memastikan bahwa tari-tari tradisional tetap diajarkan dan dipraktikkan. Ini bukan sekadar keterampilan, tapi bagian dari identitas budaya yang harus terus hidup,” jelasnya.
Ia berharap momentum Hari Tari Internasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bersama akan pentingnya menjaga dan mencintai budaya sendiri. Dengan kolaborasi antara pelaku seni, pendidik, dan masyarakat, tari tradisional diyakini tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....