Peringatan Hari Malaria, Edukasi Terus Digencarkan

  • 25 Apr 2026 15:51 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone — Peringatan Hari Malaria Internasional menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit malaria serta upaya pencegahannya. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, dr. Kasmawar, dalam keterangannya kepada RRI.CO.ID Sabtu, 25 April 2026.

Menurut dr. Kasmawar, malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Gejalanya antara lain demam naik-turun, menggigil, sakit kepala, muntah, hingga lemas, yang kerap disalahartikan sebagai demam berdarah. “Kelompok yang paling rentan adalah anak di bawah lima tahun dan ibu hamil,” jelasnya.

Untuk mencegah penularan malaria, masyarakat diimbau menerapkan langkah 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air. Selain itu, penggunaan kelambu berinsektisida, pemasangan kawat nyamuk, penggunaan lotion anti nyamuk, serta menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari di daerah endemis juga sangat dianjurkan.

Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini. Apabila mengalami demam lebih dari tiga hari, khususnya di wilayah endemis seperti beberapa daerah di Sulawesi, Papua, NTT, dan Maluku, masyarakat diminta segera melakukan pemeriksaan darah di fasilitas kesehatan terdekat. “Malaria bisa disembuhkan total jika ditangani lebih cepat, jadi jangan menunggu hingga kondisi memburuk,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr. Kasmawar menyebutkan bahwa Indonesia menargetkan bebas malaria pada tahun 2030. Hingga Mei 2024, sebanyak 398 dari 514 kabupaten/kota telah dinyatakan bebas malaria. Kabupaten Bone sendiri termasuk daerah bebas malaria, meski tetap harus waspada terhadap potensi kasus impor akibat mobilitas penduduk yang tinggi.

“Di Kabupaten Bone tercatat 29 kasus malaria, namun semuanya merupakan kasus impor dari daerah endemis, bukan penularan lokal,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa upaya pencegahan terus dilakukan melalui surveilans aktif, edukasi kesehatan di sekolah dan masyarakat, serta penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai.

Pada kesempatan tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan. Di antaranya dengan melaporkan jika ada warga yang mengalami demam berulang, ikut menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak menganggap remeh gejala demam, terutama di musim hujan. “Malaria bisa dicegah dan disembuhkan. Kuncinya jangan beri kesempatan nyamuk untuk menggigit,” tutupya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....