Asal Muasal Tren Nikah di Bulan Syawal
- 18 Apr 2026 15:16 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Ketika momen Syawal tiba, maka sudah menjadi hal yang lumrah ditengah masyarakat banyak pasangan yang mengadakan pernikahan. Hal itu pun kembali terbukti dengan tren nikah pasca Idul Fitri mengalami peningkatan di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Bone.
Kepala KUA Tanete Riattang Barat, Abd. Wahid, menyebutkan bahwa fenomena ini merupakan pola tahunan yang kerap terjadi. “Memang setelah Ramadan terjadi peningkatan pendaftaran. Sebagian bahkan sudah mendaftar sejak akhir Ramadan,” dilansir dari rri.co.id.
Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung, Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I menjelaskan jika ditinjau dari perspektif agama, Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu'in dikatakan disunahkan keberadaan akad nikah itu di bulan Syawal, pada hari Jumat. “Diawal siang, dilaksanakan di masjid dan dengan dihadiri oleh banyak jemaah”, jelas Asriady saat dihubungi rri.co.id, Sabtu, 18 April 2026.
Menikah di bulan Syawal pun telah dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. “Ada anggapan orang jahiliyah yang mengatakan bulan Syawal itu, bulan sial. Akhirnya nabi memberikan contoh (menikah) di hari Jumat bulan Syawal”, ungkap Asriady.
Berdasarkan riwayat imam Muslim dari Aisyah, “Rasulullah menikahiku di bulan Syawal dan membina rumah tangga denganku di bulan Syawal. Maka istri-istri Rasulullah yang manakah yang lebih beruntung disisi Beliau dariku?”.
Lebih lanjut dikatakan, Aisyah radhiyallahu 'anha dahulu menyukai menikahkan para wanita atau kerabatnya di bulan Syawal. “Dengan ini tertolaklah anggapan kaum jahiliyah yang memakruhkan pernikahan di bulan tersebut”, lanjut ustadz Asriady.
Jika digali secara teoritis, masyarakat Bugis juga telah mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi tradisi. “Makanya banyak yang melaksanakan pernikahan di bulan Syawal, walaupun anak-anak jaman now tidak tahu alasannya”, ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....