Badik Bugis dan Nilai Kepemimpinan yang Terlupakan
- 02 Jul 2025 10:55 WIB
- Bone
KBRN,Bone: Simbolisasi dalam budaya Bugis sangat sarat dengan pesan moral, termasuk dalam bentuk senjata tradisionalnya, yaitu badik. Pemerhati budaya, Andhy Mantra Bumi menyatakan bahwa badik bukanlah sekadar alat pertahanan diri, tetapi memiliki filosofi mendalam tentang kepemimpinan, penghormatan, dan kecerdasan. Salah satu yang paling menarik dari hasil penelusuran budaya ini adalah bagaimana leluhur Bugis menyematkan nilai-nilai hidup dalam bentuk rancang bangun badik.
“Kalau kita melihat gagang badik, bentuknya seperti orang rukuk dalam salat. Itu bukan kebetulan. Itu adalah pesan agar setiap orang Bugis menjadi pribadi yang tunduk, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga menghormati sesama, Pangulu atau gagang menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu merendah, bijak dalam memegang kekuasaan, dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain,"jelasnya saat dikonfirmasi rri.co.id, Pada Rabu (2/7/2025).
Badik tidak hanya terdiri dari pangulu, tapi juga bilah atau lise wanua, serta warangka atau wanuwa. Bilah yang tajam dan memiliki pamor beragam menjadi simbol bahwa manusia harus memiliki ilmu yang dalam serta prinsip hidup yang kuat. Pamor di bilah bukan hanya soal keindahan, tetapi merupakan gambaran keragaman wawasan yang harus dimiliki seseorang dalam menghadapi dunia yang terus berubah.
“Bilah yang tajam itu bukan untuk menusuk, tapi untuk menggambarkan tajamnya pemikiran kita. Dan pamor yang indah itu simbol dari kecakapan intelektual. Orang berilmu tidak cepat tersulut emosi, tapi mampu memberi solusi,” terangnya. Ia menyayangkan bahwa banyak generasi muda kini hanya mengenal badik sebagai benda warisan tanpa menggali nilai-nilai di baliknya.
Sedangkan wanuwa atau sarung badik menjadi simbol penting dalam menjaga etika. Meskipun bilahnya cantik, tajam, dan penuh makna, tetap harus ditutupi sebagai bentuk pengendalian diri. “Warangka itu ajaran tentang kesopanan. Semakin hebat seseorang, semakin harus tahu kapan menampakkan diri dan kapan merendah. Itu bagian dari etika Bugis yang luhur,” tambahnya.
Sayangnya, nilai-nilai tersebut mulai dilupakan. Ia menyoroti fenomena saat ini di mana orang-orang mengenakan pakaian adat Bugis sambil menonjolkan gagang badik di depan publik, yang menurutnya justru menyalahi etika leluhur. “Kalau hulunya diperlihatkan, itu artinya menantang. Leluhur kita dulu tidak memperlihatkan gagangnya ketika bertemu orang penting. Justru ditutup, agar lawan bicara merasa aman,” katanya.
Andhy menutup dengan harapan agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya mengenal pusaka sebagai benda, tetapi menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. “Menjadi orang Bugis bukan soal membawa Kawali, tapi bagaimana kita memimpin diri, terus belajar, dan rendah hati. Itulah badik yang sebenarnya,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....