Tahun Baru Hijriah, Momentum Awal Perjalanan Sejarah Islam
- 27 Jun 2025 04:49 WIB
- Bone
Tahun Baru Hijriah yang jatuh pada 1 Muharam merupakan momen penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar penanggalan dalam Kalender Hijriah. Hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga simbol perubahan dan awal dari pembentukan masyarakat Islam yang mandiri.
Nama resmi dari perayaan ini dalam bahasa Arab adalah Ra’s al-Sanah al-Hijrīyah (رأس السنة الهجرية). Di Indonesia dan berbagai negara mayoritas Muslim, hari ini juga dikenal dengan nama Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Arab. Meski tidak semeriah perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Hijriah dirayakan dengan kegiatan ibadah seperti berzikir, berselawat, bertaubat, dan menikmati makanan khas seperti jenang suro atau dodol, sebagai bentuk rasa syukur dan refleksi diri.
Dilansir dari Wikipedia, Kalender Hijriah secara resmi belum digunakan pada masa Rasulullah SAW, melainkan baru ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab R.A. Hal ini dilakukan setelah para sahabat bermusyawarah untuk menentukan momen penting yang dapat dijadikan awal perhitungan kalender Islam. Setelah berbagai usulan, hijrah Nabi ke Madinah dipilih karena menjadi tonggak berdirinya peradaban Islam yang mandiri secara politik dan sosial.
Pemilihan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan menandai perubahan paradigma besar dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW untuk pertama kalinya membentuk pemerintahan berbasis Islam, menjalin diplomasi antarnegara, dan menyebarkan dakwah secara global. Hijrah menjadi titik balik dalam perjuangan Islam dari tekanan menjadi kekuatan yang berdampak luas di berbagai belahan dunia.
Tahun Baru Hijriah dimulai sejak terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan berlangsung hingga senja 1 Muharam. Umat Islam memaknainya sebagai waktu untuk bermuhasabah atau introspeksi diri terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui dan menyusun harapan yang lebih baik di tahun mendatang. Di berbagai tempat, peringatan ini juga diisi dengan kegiatan sosial dan pengajian keagamaan.
Karena Kalender Hijriah menggunakan sistem kalender lunar (bulan), maka Tahun Baru Islam tidak jatuh pada tanggal yang sama setiap tahunnya dalam Kalender Masehi. Kalender Islam biasanya lebih pendek sekitar 10 hingga 12 hari dibandingkan kalender matahari (solar) yang digunakan dalam penanggalan Masehi. Hal ini membuat perayaan 1 Muharam terus bergeser setiap tahunnya dalam sistem penanggalan umum.
Tahun Baru Hijriah bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi momen kontemplatif untuk menghidupkan kembali semangat hijrah — yakni berpindah dari hal-hal negatif menuju kebaikan. Umat Islam diharapkan menjadikan peringatan ini sebagai sarana memperkuat keimanan, meningkatkan solidaritas umat, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....