Fenomena Bukber Jaman Now, Makna dan Filosofinya

  • 14 Mar 2026 13:23 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Buka bersama (bukber) telah menjadi tradisi masyarakat saat bulan ramadan tiba. Bukber tidak hanya sekedar berkumpul dan membatalkan puasa tapi punya makna yang mendalam, bahkan telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lappariaja, Ayu Puspita Sari, S.Sos menjelaskan dalam beberapa riwayat menyebutkan Rasulullah sering berbuka bersama keluarga para sahabat di Masjid Nabawi. “Saat itu mereka berbuka dengan menu yang sederhana, seperti air dan kurma karena memang intinya adalah kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi”, jelas Ayu pada rri.co.id, Sabtu, 14 Maret 2026.

Hal itu, menurut Ayu sejalan dengan ajaran agama Islam yang menekankan tentang kebersamaan, silaturahmi dan saling berbagi. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)

Meski masih menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, bukber di masa sekarang memiliki konsep yang lebih detail, mulai dari tempat, menu, hingga dress code. “Biasanya sudah jauh-jauh hari menetapkan jadwal bukber untuk bertemu, reservasi tempat, pesan menu bukber, bahkan sampai bajunya juga ada tema khusus”, ujarnya.

Lebih jauh Ayu menyayangkan bukber kini melenceng dari esensi yang sebenarnya dan menimbulkan fenomena-fenomena unik. “Meski tak semua orang, tapi sebagian orang menjadikan bukber sebagai ajang pamer, bahkan ada juga yang lalai atau menunda salat maghrib, tidak melanjutkan salat tarawih, sibuk dengan hp dan berlebihan dalam konsumsi”, tegas Ayu.

“Semua fenomena ini berpotensi membuat bukber bisa kehilangan nilai spiritualnya jika tidak dijaga niat dan tujuannya. Padahal idealnya, bukber tetap menjadi sarana silaturahmi dengan tidak melalaikan ibadah dan terap sederhana sesuai semangat ramadan”, tuturnya.

Dikatakan Ayu, agar bukber bernilai ibadah dan tetap hangat kebersamaannya, maka perlu untuk meluruskan niat, utamakan salat tepat waktu, jaga kesederhanaan dengan memesan makanan secukupnya saja agar tidak mubazir. “Kemudian sisipkan unsur kebaikan seperti doa bersama, tausiyah singkat atau berbagi makanan. Selanjutnya batasi gawai, batasi interaksi dan lanjutkan dengan tarawih”, imbuh Ayu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....