Lama Merantau, Yuyun Rindu Hangatnya Suasan Puasa di Kampung Halaman

  • 20 Feb 2026 21:11 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID,Bone - Ramadan menghadirkan suasana berbeda bagi setiap orang, terutama mereka yang menjalankannya jauh dari kampung halaman. Hal itu dirasakan Yuyun Wulandari, putri asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang kini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat, Jakarta.

Perempuan yang telah tiga tahun merantau di Ibu Kota itu mengaku suasana puasa di Jakarta berbeda dibandingkan di Bone. Selain karena faktor cuaca yang tengah memasuki musim hujan, perbedaan paling terasa adalah momen kebersamaan bersama keluarga saat sahur dan berbuka puasa.

“Yang paling terasa itu tinggal sendiri, jauh dari keluarga. Momen sahur dan buka puasa bersama orang tua itu yang paling dirindukan,” kata Yuyun saat berbincang dalam program CERA (Cerita Ramadan), Jumat, 20 februari 2026.

Ia menuturkan, ritme Ramadan di Jakarta cenderung lebih praktis. Menu sahur bisa disiapkan sendiri atau membeli makanan yang banyak dijajakan meski dini hari. Namun, menurutnya, kehangatan suasana rumah tetap tidak tergantikan. “Tinggal di rantau itu membuat kita harus lebih mandiri. Kalau di rumah kan sudah ada mama yang siapkan, bahkan dibangunkan lebih awal untuk sahur,” ujarnya.

Meski demikian, Yuyun tetap berusaha memaknai Ramadan dengan aktif di lingkungan kerja. Tahun ini ia terlibat sebagai panitia kegiatan Ramadan di kantor, membantu persiapan berbuka puasa dan pembagian makanan di masjid.

Tradisi menyambut Ramadan juga menjadi kerinduan tersendiri. Di Bone, masyarakat mengenal tradisi “mabaca-baca”, yakni doa bersama yang dilanjutkan makan bersama keluarga besar menjelang bulan suci. Tradisi itu, menurutnya, tidak ia temukan di perantauan. “Tradisi mabaca-baca itu sangat unik dan hanya saya temukan di Bone dan Sulawesi. Kita berkumpul dengan keluarga besar, membaca doa lalu makan bersama. Itu yang paling saya rindukan,” ucapnya.

Ia membandingkan, di Jakarta maupun daerah lain seperti Yogyakarta dan Kalimantan, masyarakat memiliki tradisi ziarah kubur atau munggahan menjelang Ramadan. Namun, suasana kekeluargaan khas mabaca-baca tetap memiliki kesan mendalam baginya.

Selain tradisi, Yuyun juga merindukan hidangan khas kampung halaman seperti kapurung, ayam palekko, ikan dempo lontong, hingga es buah dengan sirup khas Bone. Menurutnya, cita rasa masakan rumah tidak tergantikan meski menu serupa tersedia di Jakarta.

Yuyun berharap, Ramadan di perantauan dapat menjadi momentum meningkatkan ibadah sekaligus mempererat hubungan keluarga meski berjauhan. “Walaupun jauh, jangan lupa selalu menghubungi orang tua. Karena bagi saya, Ramadan justru membuat kita semakin sadar betapa berharganya waktu bersama keluarga,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....