Ini Alasan, Orang Melakukan Mudik Tiap Tahunnya
- 22 Mar 2025 21:10 WIB
- Bone
KBRN, Bone: Mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga memiliki nilai sosial, psikologis, serta dimensi ekonomi dan bisnis yang signifikan. Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia Balikpapan, Andi Indra Saputra Alamsyah, M.AB., menuturkan bahwa meskipun mudik membutuhkan biaya besar dan perjalanan yang melelahkan, perantau tetap menjalankannya karena manusia memiliki fitrah sebagai makhluk sosial yang terikat dengan komunitas asalnya.
Menurut Andi Indra, ada beberapa alasan utama seseorang memutuskan untuk mudik, antara lain kebutuhan emosional dan sosial. "Manusia memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan keluarga dan lingkungan asalnya. Mudik menjadi cara untuk memperkuat kembali hubungan ini," jelas Andi Indra saat dikonfirmasi rri.co.id, Sabtu (22/3/2025).
Dari perspektif ekonomi dan bisnis, mudik juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah asal. Pergerakan ekonomi meningkat karena tingginya konsumsi masyarakat terhadap berbagai kebutuhan seperti transportasi, oleh-oleh, serta barang dan jasa lokal. Selain itu, tradisi mudik juga menciptakan peluang bisnis baru bagi masyarakat lokal, seperti usaha kuliner, penginapan, dan jasa transportasi.
Dalam kajian sosiologi budaya yang berhubungan dengan ekonomi, konsep habitus memainkan peran penting. Habitus menurut Pierre Bourdieu (1977) adalah kebiasaan sosial yang tertanam dalam diri seseorang dan menjadi bagian dari identitas yang memperkuat keterikatan dengan budaya serta kebiasaan sosial masyarakat. Hal ini terlihat dalam berbagai tradisi khas masyarakat Bugis Bone yang membuat mudik semakin dinantikan oleh para perantau, antara lain:
a. Massiara (Silaturahmi)
Tradisi kunjungan dari rumah ke rumah untuk meminta maaf dan mempererat hubungan keluarga serta tetangga. Dalam perspektif sosial ekonomi, ini mencerminkan budaya kolektif yang mendorong solidaritas dan memperkuat jaringan sosial yang juga berdampak pada aktivitas ekonomi lokal.
b. Makan Bersama dalam Acara Keluarga
Biasanya setelah shalat Idul Fitri, keluarga besar berkumpul untuk makan bersama. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan nilai sipakatau (saling menghormati) dalam budaya Bugis, tetapi juga berdampak pada peningkatan konsumsi pangan lokal, yang berkontribusi terhadap perputaran ekonomi di daerah asal.
c. Ziarah Kubur
Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ziarah kubur menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi mudik. Aktivitas ini juga memiliki dimensi ekonomi karena masyarakat sering membeli perlengkapan ziarah seperti bunga, air mawar, dan kain penutup makam dari pedagang lokal.
d. Mappatabe’ kepada Orang Tua
Sebelum merantau atau saat kembali ke kampung halaman, tradisi mappatabe’ dilakukan sebagai bentuk permohonan restu kepada orang tua dan sesepuh keluarga.
Ditambahkan Andi Indra, tradisi mudik juga berperan sebagai mekanisme redistribusi ekonomi. Uang yang dibawa oleh para perantau dari kota ke desa meningkatkan daya beli masyarakat setempat dan memberikan efek domino terhadap perekonomian daerah. Selain itu, kebiasaan mudik dapat menjadi stimulus pertambahan ekonomi bagi bisnis UMKM lokal, terutama dalam sektor makanan, transportasi, dan jasa penginapan.
“Dengan demikian, selain memiliki nilai budaya dan sosial yang tinggi, tradisi mudik juga memberikan dampak ekonomi yang luas, baik bagi individu maupun komunitas. Oleh karena itu, memahami tradisi mudik melalui pendekatan ekonomi dan bisnis dapat membantu dalam merancang kebijakan yang mendukung perkembangan ekonomi daerah, terutama di wilayah-wilayah dengan populasi perantau yang besar seperti Kabupaten Bone,” ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....