Menelusuri Asal Usul Sarabba, Si Manis dari Sulsel
- 02 Agt 2026 10:23 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Etnis Jawa punya wedan jahe, Bugis-Makassar punya sarabba yang sama-sama dibuat dari campuran jahe. Kedua jenis minuman tersebut sangat cocok dikonsumsi saat musim hujan datang karena dapat menghangatkan tubuh.
Meski memiliki kemiripan, sarabba memiliki tekstur yang lebih kental karena tambahan bahan lain berupa santan, gula aren, dan kuning telur. Perpaduan bahan - bahan itu menciptakan cita rasa yang gurih, manis, dan sedikit pedas. Tak jarang, Sarabba juga dicampur dengan rempah, seperti merica, serai, kayu manis, cengkeh, atau daun pandan untuk menambah aroma khasnya.
Dilansir dari goodnewsfromindonesia.com, Sarabba telah diwariskan turun temurun, namun hingga saat ini, tidak ada literatur yang menyebutkan secara pasti tentang asal usul minuman tradisional ini. Beberapa sumber mengatakan bahwa minuman ini pertama kali muncul pada abad ke 17 di Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan Islam terbesar di Sulawesi Selatan.
Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa sarabba berasal dari Arab Saudi, tepatnya Kota Makkah. Mereka berpendapat bahwa sarabba mirip seperti minuman yang disajikan di Makkah pada saat berbuka puasa. Minuman tersebut biasa disajikan bersamaan dengan kurma dan makanan berbuka puasa lainnya di sana.
Pendapat tersebut sesuai dengan penelitian Masyudi dan kawan-kawan pada tahun 2022, yang mengatakan bahwa ada tradisi orang Mekkah yang tiap hari Kamis mengajak keluarganya untuk beribadah bersama di Masjidil Haram. Ketika waktu berbuka puasa datang, keluarga tersebut menyediakan minuman yang mirip dengan sarabba.
Pendapat ini didukung dengan sumber yang menjelaskan bahwa kata 'sarabba' berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab, yakni 'syariba-yasyrabu' yang berarti meminum. Dengan kata lain, penamaan sarabba merupakan bentuk serapan dari bahasa Arab yang maknanya minum.
Sejalan dengan pendapat tersebut, ternyata ada juga kata ‘serbat’ dalam KBBI, yang berarti minuman segar atau minuman yang terbuat dari jahe dan gula merah untuk menghangatkan badan. Kata ‘serbat’ diyakini berasal dari kata 'syurbat', yakni bentuk nominal dari verba ‘syariba’ yang berarti minuman.
Terlepas dari hal itu, hingga kini, sarabba masih eksis dengan ciri khasnya tersendiri dan diyakini telah menjadi simbol kebersamaan dan tradisi masyarakat Bugis-Makassar. Maka tak heran, jika minuman tradisional ini dapat kita temukan dengan mudah di warung-warung pinggir jalan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....