Dianggap Invasif, Ikan Nila Kurang Diminati di Jepang
- 25 Mei 2026 12:02 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Ikan Nila salah satu jenis protein hewani yang sangat diminati, maka tak heran ikan ini menjadi primadona di Indonesia. Jenis ikan ini banyak dipilih masyarakat karena harganya yang relatif terjangkau, cita rasanya yang nikmat dan mudah dibudidayakan.
Selain mudah dibudidayakan, ikan air tawar ini juga mudah diolah menjadi berbagai macam menu masakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip oleh CNBC Indonesia, rata-rata konsumsi ikan nila per kapita dalam seminggu bisa mencapai 16.477 yang merupakan angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Meski populer di Indonesia, seperti dikutip dari isw.co.id, ikan nila ini justru tidak dianggap sebagai bahan makanan di Jepang karena beberapa alasan :
Dominasi Ikan Laut
Jepang termasuk negara dengan tingkat konsumsi ikan yang tinggi, namun ikan yang dikonsumsi adalah ikan laut, seperti tuna, salmon dan makarel. Kebiasaan yang dilakukan berabad-abad ini kemudian merubah pandangan masyarakat Jepang tentang ikan air tawar.
Cara Hidup yang Ekstrem
Budaya kuliner di Jepang sangat mengutamakan kesegaran dan kualitas habitatnya. Ikan nila dianggap memiliki cara hidup yang terlalu ekstrem, karena bisa hidup di berbagai kondisi kualitas air. Hal tersebut dianggap kurang memenuhi standar kualitas yang diharapkan kebanyakan konsumen di sana.
Dianggap Sebagai Spesies Asing (Invasif)
Ikan nila bukan ikan asli Jepang, sehingga masyarakat di sana menganggapnya sebagai spesies asing yang berpotensi merusak ekosistem lokal. Dalam sejarah kuliner tradisional Jepang, ikan nila juga tidak pernah disinggung. Stigma asing ini membuat ikan nila seperti ‘hantu’, karena keberadaannya ada namun tidak pernah diakui di meja makan.
Walaupun tidak dianggap sebagai bahan makanan, namun pernah ada upaya untuk memasarkan nila di sana dengan sebutan ‘Izumidai’, yaitu nila yang disajikan dalam bentuk sushi dan sashimi. Pemberian nama tersebut juga dilakukan agar terdengar mirip ikan Madai (kakap merah) dengan tujuan untuk menarik minat masyarakat.
Sayangnya, upaya tersebut juga tidak berhasil mengubah pandangan masyarakat Jepang terhadap ikan nila. Sedangkan potensi potensi ekonomi ikan nila di Indonesia justru semakin cerah karena dinilai sebagai solusi cerdas di tengah fluktuasi harga pangan global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....