Mengulik Asal Usul dan Nilai Filosofis Ketupat
- 21 Mar 2026 16:44 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Hari lebaran telah sejak lama diidentikkan dengan ketupat. Sebuah penganan berbahan dasar beras dengan bentuk umumnya berupa segi empat (belah ketupat) yang melambangkan empat arah mata angin dan simbol keseimbangan, dengan anyaman janur kuning.
Ketupat sebenarnya dapat ditemui dengan mudah di hari-hari biasanya, seperti di warung atau di pasar tradisional. Meski begitu kehadiran ketupat di momen lebaran tetaplah istimewa dan selalu dinantikan.
Wikipedia : Hidangan ini berasal dari Pulau Jawa Indonesia, yang dalam perkembangannya menyebar ke negara lain, seperti; Brunei, Malaysia, Singapura dan Thailand Selatan. Di Filipina juga dijumpai bugnoy yang mirip ketupat tetapi dengan pola anyaman berbeda.
Kupat atau ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Demak pimpinan Raden Fatah awal abad ke-15. Bentuknya yang persegi empat bermakna "kiblat papat lima pancer," sebagai keseimbangan alam yakni 4 arah mata angin yang bertumpu pada satu pusat. Kupat pertama kali muncul di tanah Jawa, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa yang merupakan hasil perpaduan makan tradisional Tepo yang dibalut anyaman yang dapat ditemukan di Wengker sekitar Gunung Lawu.
NU Online : Menurut Sejarawan Agus Sunyoto (2016), lebaran ketupat tradisi asli Indonesia. Itu sebetulnya diambil dari satu hadits, “man shoma ramadhana tsumma atba‘ahu syi’ta minsyawwalin fakaana shama kasiyaamidahron” (Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti telah berpuasa selama setahun penuh).
Orang yang berpuasa seperti itu disebut kaffah atau kafatan, artinya sempurna. Orang Indonesia menyebutnya kupat (ketupat) atau kupatan. Itu sebabnya orang Indonesia setelah berpuasa Syawal, ada hari raya ketupat, artinya hari raya sempurna.
Dalam sejarah masyarakat Nusantara khususnya bagi masyarakat pesisir dan agraris, ketupat dijadikan makanan khas ketika para petani melakukan tradisi pasca panen, selametan yang ditujukan pada “Dewi Kemakmuran” bernama Dewi Sri. Dewi Sri merupakan Dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris yang dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Padjajaran.
Tradisi dengan menyajikan ketupat lalu berlanjut pada masa kerajaan Islam, yaitu pada masa Kerajaan Demak dan Mataram Islam. Pemandangan tersebut terlihat ketika masyarakat Keraton di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon melakukan upacara selametan yang disebut sekaten atau grebeg mulud yang dibarengi dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Ketupat menjadi bagian dari sajian penting dalam upacara tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....