Jejak Kerajaan Mataram yang Lestari lewat Jamu
- 07 Jul 2026 21:21 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Indonesia punya obat tradisional yang diperkirakan telah eksis sejak era kerajaan Mataram. Obat herbal tersebut diracik dari perpaduan bahan alami rimpang (jahe, kunyit, kencur, temulawak), rempah (kayu manis, cengkeh, adas, kapulaga), daun (pandan, sirih, sambiloto), dan pemanis alami (gula merah atau gula aren).
Obat herbal itu pun dikenal dengan sebutan Jamu yang telah diwariskan secara turun temurun. Lebih dari sekedar budaya, jamu telah secara resmi diakui UNESCO warisan budaya tak benda.
Dilansir dari laman gramedia.com, Jamu adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa, tepatnya pada 16 Masehi. Kata Jamu berasal dari dua kata, yaitu “Djampi” dan “Oesodo” yang memiliki makna obat, doa, dan juga berarti formula yang berbau magis.
Jamu pertama kali muncul pada zaman Kerajaan Mataram atau sekitar 1300 tahun yang lalu. Keberadaan jamu sejak zaman dahulu dapat dilihat dari beberapa bukti sejarah seperti relief pada candi Borobudur. Relief Candi Borobudur yang dibuat oleh Kerajaan Hindu-Budha tahun 772 M menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk memelihara kesehatan.
Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Hindu-Majapahit yang menyebut adanya profesi ‘tukang meracik jamu’ yang disebut Acaraki. Ditemukannya Lontar Usada di Bali yang ditulis menggunakan bahasa Jawa kuno menceritakan mengenai penggunaan jamu juga menjadi bukti keberadaan jamu sejak zaman dahulu.
Di Indonesia, sebagian orang lebih percaya jamu sebagai alternatif pengobatan dengan menggunakan obat-obat herbal karena dianggap bersifat alami, sehingga bebas dari efek samping yang tidak diinginkan. Kebanyakan orang mengkonsumsi jamu untuk menjaga kesehatannya, memelihara kecantikan tubuh, suplemen penambah tenaga dan gairah hidup.
Jamu yang terdiri dari tanaman obat memberikan dampak yang terlihat lambat tetapi bersifat memperbaiki dibanding obat kimiawi yang memberikan efek cepat dan adanya efek samping. Oleh karena itu, jamu sering digunakan sebagai kombinasi pengobatan untuk mengobati penyakit kronis karena relatif aman untuk dikonsumsi, memiliki toksisitas yang rendah serta tidak meninggalkan residu.
Seiring berkembangnya ilmu dan teknologi, jamu tradisional yang dulunya harus dipanen terlebih dahulu untuk dikonsumsi, sekarang sudah diolah dan dikemas secara modern. Jamu dikemas menjadi berbagai bentuk seperti bubuk, kapsul, tablet dengan kemasan yang lebih menarik sehingga konsumen mudah mendapatkan dan mengonsumsinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....