Jahe, Rempah Tua Kaya Manfaat dan Sejarah

  • 27 Jun 2025 04:37 WIB
  •  Bone

KBRN,Bone: Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman rimpang yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu, bahkan tercatat dalam buku Analek Konfusius oleh Kong Hu Cu pada tahun 557–479 SM. Dalam kitab tersebut, Konfusius menyatakan bahwa ia tidak pernah mengonsumsi makanan tanpa jahe. Ini menunjukkan bahwa jahe telah lama menjadi bagian penting dalam kebudayaan dan pola konsumsi masyarakat Asia Timur.

Dilansir dari Wikipedia Penamaan ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh dalam karyanya Flora Indica yang terbit pada tahun 1832. Nama Zingiber berasal dari Bahasa Yunani “Zingiberi” yang diserap dari Bahasa Sanskerta “Singabera” yang berarti “tanduk”, mengacu pada bentuk rimpangnya yang menyerupai tanduk rusa. Sementara officinale berasal dari bahasa Latin officina, menandakan penggunaannya dalam dunia farmasi dan pengobatan.

Keanekaragaman nama jahe di berbagai daerah di Indonesia mencerminkan luasnya penyebaran dan penggunaan rempah ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara. Di Pulau Sumatra dikenal dengan nama halia, bahing, alia, sipode, dan lainnya, sementara di Pulau Jawa disebut jae atau jhai. Di bagian timur Indonesia, nama seperti pace (Bugis), leya (Makassar), hingga lea (Flores) menggambarkan betapa pentingnya tanaman ini dalam berbagai kebudayaan lokal.

Jahe juga dikenal luas di dunia, termasuk dalam bentuk produk minuman seperti ginger ale yang populer di negara Barat. Masyarakat Tiongkok dan Jepang dikenal menyukai asinan dan sirup jahe. Di Indonesia, jahe menjadi bahan utama dalam minuman tradisional seperti sekoteng, bandrek, dan wedang jahe yang digemari karena memberi efek hangat, terutama saat malam hari di daerah pegunungan.

Terdapat tiga jenis jahe utama yang dikenal luas, yakni jahe gajah, jahe kuning, dan jahe merah. Jahe gajah atau jahe badak populer di pasar internasional karena ukurannya besar dan rasanya tidak terlalu pedas. Jahe kuning lebih banyak digunakan sebagai bumbu masakan lokal karena aroma dan rasa yang tajam. Sedangkan jahe merah memiliki kandungan minyak atsiri tertinggi dan rasa paling pedas, cocok untuk keperluan farmasi dan jamu.

Secara agronomis, jahe tumbuh baik di daerah dengan ketinggian 0 hingga 1500 meter di atas permukaan laut, dengan pengecualian jahe gajah yang lebih optimal tumbuh di ketinggian 500–950 meter. Tanaman ini memerlukan curah hujan tinggi, kelembapan sekitar 80 persen, serta tanah dengan pH 5,5 hingga 7,0 yang kaya unsur hara dan tidak tergenang air.

Dengan manfaat dan sejarah panjangnya, jahe bukan hanya tanaman rempah biasa. Ia adalah bagian dari warisan budaya, bahan pengobatan alami, sekaligus komoditas potensial yang terus dibudidayakan hingga kini di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....