Haji Mabrur Hadirkan Perubahan Akhlak Kehidupan Muslim

  • 28 Mei 2026 19:06 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone, Ustaz Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I., memaknai haji mabrur sebagai ibadah yang diterima Allah SWT dan mampu menghadirkan perubahan akhlak dalam kehidupan seorang muslim. Menurutnya, kemabruran haji tidak hanya terlihat saat berada di Tanah Suci, tetapi juga setelah kembali ke tanah air.

Dr. Muhammad Asriady menjelaskan, konsep haji mabrur berangkat dari hadis riwayat Imam Ahmad dan Al-Baihaqi dari Jabir bin Abdullah, “Al-hajju al-mabruru laisa lahu jaza’un illal jannah” yang berarti haji mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga. Ia mengatakan, kata “mabrur” berasal dari “al-birru” yang berarti kebajikan atau berbuat baik kepada Allah SWT.

“Intinya ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Kenapa diterima? Karena ibadah hajinya sah, sempurna syarat, rukun dan wajibnya, tidak ada maksiat di dalam pelaksanaannya dan setelah pulang semakin bertambah takwanya kepada Allah serta semakin baik perangainya kepada sesama manusia,” ujarnya saat dikonfirmasi rri.co.id, Kamis 28 Mei 2026.

Ia juga mengaitkan makna haji mabrur dengan falsafah Bugis, yakni “madeceng pakkasiwianngna ri Puang Allahu ta’ala, madeceng assisumpungeng lolona ripadanna rupa tau,” yang bermakna baik hubungannya kepada Allah dan baik pula hubungan sosialnya kepada sesama manusia.

Menurutnya, tanda seseorang memperoleh haji mabrur terlihat dari bertambahnya kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. “Setelah haji bukanlah gelar yang diperoleh, melainkan akhlakul karimah, memanusiakan manusia dan terimplementasi yang namanya ziyadatul khair atau bertambah kebaikannya,” kata Dr. Muhammad Asriady.

Dalam pengalaman spiritualnya selama menjalankan ibadah haji tahun ini, ia mengaku merasakan kedekatan luar biasa dengan Rasulullah SAW dan Allah SWT. Ia menuturkan suasana di Masjid Nabawi, Raudhah hingga saat tawaf dan sai memberikan ketenangan batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. “Semakin kita mendekat dan semakin kita pasrah kepadaNya, di saat itulah pertolongan Allah terus terasa,” ungkapnya.

Dr. Muhammad Asriady menambahkan, menjaga kemabruran haji harus dilakukan secara konsisten setelah kembali dari Tanah Suci. Ia mengingatkan agar umat Islam tetap menjaga salat, dzikir, rendah hati, serta menghargai sesama manusia. “Jangan terlalu meninggikan ego, jangan sombong, jangan merasa lebih baik dari yang lain. Kita semua sama, seperti saat mabit di Muzdalifah tanpa sekat,” tutupnya.

Ibadah haji diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kebersamaan, keikhlasan, serta kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dalam menjaga kemabruran haji setelah kembali ke tanah air.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....