Skema Haji Ramah Lansia, Cegah Jemaah Alami Sakit

  • 26 Mei 2025 20:19 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Pelaksanaan ibadah haji menuntut jemaah memiliki fisik dan mental yang kuat agar dapat mengikuti seluruh rangkaian ibadahnya dengan lancar. Namun tak dapat dipungkiri berbagai faktor seperti komorbid, aktivitas yang padat, perubahan cuaca ekstrim dll seringkali memicu jemaah mengalami sakit atau bahkan wafat di Tanah Suci.

Dalam mengantisipasi terjadinya hal tersebut, pemerintah Indonesia telah menyiapkan skema haji untuk memudahkan para jemaah dapat tetap menjalankan ibadah hajinya dengan tenang dan tanpa dihantui rasa khawatir. Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK), dr. Andi Rizki Tenryayu yang bertugas mendampingi jemaah di kloter 9 (UPG) / kloter 2 bone menjelaskan jemaah lansia atau yang sakit akan tetap diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji, dengan catatan, mereka harus mendapatkan pendampingan ketat dari nakes, khususnya mengenai obat-obatan.

Dijelaskannya, diantara skema pemerintah yang dirancang untuk memudahkan jemaah, baik dalam kondisi sakit, tidak bisa berjalan atau memiliki kondisi khusus yang tidak memungkinkan ibadahnya dapat berjalan normal seperti jemaah lainnya adalah Safari Wukuf. “Jemaah dibawa ke Arafah dengan ambulance, jadi tetap bisa melaksanakan wukuf walaupun dalam kondisi terbatas,” jelas dr. Rizki yang dikonfirmasi rri.co.id disela kegiatannya di Mekah, minggu (25/5/2025).

Selanjutnya Murur, dilakukan dengan cara melintas di Musdalifah setelah wukuf di Arafah dan langsung menuju Mina tanpa harus turun dari bus atau bermalam secara fisik. Menurut Ulama, kebijakan ini dapat ditoleransi dan tetap sah sesuai dengan ketentuan fikih.

“Kemudian ada juga yang disebut Tanazul, yaitu kebijakan yang memungkinkan jemaah haji yang tinggal di hotel dekat area Jamarat untuk kembali ke hotel setelah melempar Jumrah Aqabah dan tidak perlu menginap di tenda Mina, terutama selama hari-hari Tasyriq (11–13 Zulhijjah). Ini sebagai solusi untuk mengurangi kepadatan di Mina”, ujarnya.

Lebih jauh dr. Rizki mengatakan tahun ini banyak program dari pemerintah yang tujuannya untuk menekan jumlah kematian dan jemaah yang sakit. Sedangkan tenaga medis berperan untuk menentukan dan mengklasifikasikan jemaah sesuai dengan kondisinya. “Mana yang bisa ikut Tanazul, Murur atau Safari Wukuf”, ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....