Sejarah Singkat Lontara di Sulawesi Selatan

  • 16 Des 2024 12:17 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Museum Saoraja Lapawawoi Kr. Sigeri Kabupaten Bone dapat menjadi pilihan destinasi wisata budaya yang letaknya di pusat Kota Watampone. Museum yang dulunya difungsikan sebagai rumah raja Bone itu telah banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.


Kepala UPT Museum Saoraja Lapawawoi Kr. Sigeri, Ade Irmayani, SE., mengungkapkan museum ini menyimpan bukti sejarah dari masa pra-sejarah, masa kerajaan Bone, masa kolonial dan pasca kemerdekaan RI. “Salah satu koleksi yang kami pamerkan disini adalah salinan naskah Lontara, diantaranya, La Galigo Jilid 1, Sejarah To Manurung di Ware, Sejarah To Manurung di Bone dan Silsilah Raja Bone dll”, ungkapnya kepada rri.co.id, senin (16/12/2024).


Aksara Lontara sendiri adalah aksara tradisional yang digunakan beberapa etnis di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat ini merupakan turunan dari aksara Brahmi India melalui perantara aksara Kawi. Wikipedia menyebut Para ahli umumnya meyakini bahwa aksara Lontara telah digunakan sebelum Sulawesi Selatan mendapat pengaruh Islam yang signifikan sekitar abad 16 M.


Lontara di Sulawesi Selatan pertama kali berkembang di wilayah Bugis yaitu kawasan Cenrana-Walannae sekitar tahun 1400 M. Aksara ini mungkin telah menyebar ke bagian lain Sulawesi Selatan, bahkan beberapa ahli juga mempertimbangkan kemungkinan aksara ini berkembang secara mandiri. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya catatan tertulis silsilah keluarga dalam aksara lontara.


Pada saat kertas tersedia di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17, aksara lontara yang sebelumnya harus ditulis lurus, bersudut dan kaku pada daun lontar, kini dapat ditulis lebih cepat dan lebih bervariasi dengan menggunakan tinta pada kertas.


Melalui upaya ahli linguistik Belanda, B.F. Matthes, mesin cetak Lontara Bugis, yang dirancang dan dibuat di Rotterdam pada pertengahan abad ke-19, digunakan sejak saat itu untuk pencetakan di Makassar, Sulawesi Selatan dan Amsterdam. Selain itu, juga dijadikan model pengajaran aksara Lontara Bugis di sekolah-sekolah, awalnya di Makasar dan sekitarnya, kemudian secara bertahap di daerah lain di Sulawesi Selatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....