Perlahan Menepi dan Terasing, Bahasa Bugis Menjemput Senjanya

  • 19 Jun 2026 11:29 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Layar gawai pintar itu menyala, menampilkan tarian algoritma media sosial yang riuh. Namun, di tengah riuhnya ruang digital itu, ada satu yang sunyi: bahasa Bugis, Bahasa leluhur yang kaya akan falsafah itu kini pelan-pelan menepi, terasing di tanahnya sendiri.

Modernisasi dan globalisasi memang menawarkan jendela dunia yang luas, namun di saat yang sama, ia perlahan mengikis fondasi identitas lokal. Tren penurunan minat terhadap bahasa daerah, khususnya bahasa Bugis, kini bukan lagi sekadar isu di atas kertas, melainkan kenyataan pahit yang kasat mata.

Kenyataan ini diakui langsung oleh Dr. Rahmatunnair, S.Ag., M.Ag., sebagai akademisi sekaligus orang tua, ia melihat langsung bagaimana Generasi Z kian berjarak dengan bahasa ibunya. "Gen Z cenderung menggunakan bahasa yang lebih mengglobal, bahkan bukan hanya bahasa Bugis yang terancam. Kalau jangkauan mereka sudah mendunia, mereka akan menggunakan bahasa internasional, dan bahasa Indonesia pun akan terancam nanti," ungkap Rahmatunnair kepada rri.co.id, Kamis, 18 Juni 2026.

Ironisnya, kepunahan sebuah bahasa sering kali dimulai dari ruang paling intim: meja makan dan ruang keluarga. Hari ini, banyak orang tua tak lagi melihat bahasa Bugis sebagai sesuatu yang esensial untuk masa depan anak, ada ketakutan laten bahwa jika sang anak terlalu kental berbahasa daerah, mereka akan gagap beradaptasi dengan lingkungan sekolah perkotaan atau kalah dalam persaingan global.

Maka, migrasi bahasa pun terjadi di dalam rumah. Bahasa Bugis dipensiunkan, diganti oleh bahasa Indonesia atau bahasa asing. Langkah ini tentu tidak salah, mengingat bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa, namun, sebuah tanya besar menggelitik: jika anak-anak muda kehilangan bahasa daerahnya, bukankah mereka juga sedang kehilangan kompas identitas dan jati diri mereka?

Rahmatunnair bahkan merefleksikan fenomena ini dari dalam rumahnya sendiri, sebuah kejujuran yang menampar realitas kita saat ini, bahwa Penggunaan bahasa Bugis tak terbantahkan lagi telah mengalami penurunan. “Contoh sederhananya, anak-anak saya tidak lagi menggunakan bahasa Bugis, padahal mereka orang Bugis. Lingkungan keluargalah yang memegang peranan penting untuk menumbuhkan atau merevitalisasi kembali bahasa Bugis itu”, ujar Dosen IAIN Bone itu.

Krisis ini rupanya telah menjalar jauh, jika dulu sekolah-sekolah di pelosok desa masih akrab dengan logat dan kosa kata Bugis yang kental, kini suasananya telah berubah. Pelan tapi pasti, bahasa daerah seolah tenggelam di tengah hingar-bingar modernitas. Masyarakat terancam kehilangan identitas budaya yang unik, nilai-nilai leluhur, serta kekayaan sastra dan pengetahuan lokal yang tak ternilai harganya.

Jalur formal di sekolah pun seperti kehabisan napas. "Di sekolah dulu ada kurlok (kurikulum lokal). Mestinya di situ harus ada penguatan. Cuma memang intensitas pembelajarannya sedikit, dalam satu minggu mungkin hanya 1–2 kali. Itu baru bahasa, padahal kurlok itu bukan hanya mengajar bahasa, tetapi juga budayanya," tambah Rahmatunnair.

Bagi sebagian orang, hilangnya sebuah bahasa mungkin dianggap sepele, namun bagi Afdhal, seorang warga Bone, kondisi itu bukan sekedar persoalan berkurangnya alat komunikasi, melainkan ancaman terhadap hilangnya identitas sejarah dan memori kolektif kita sebagai sebuah bangsa. "Maka perlu kita jaga bersama di tengah arus peradaban global karena mengancam warisan leluhur," tegas Afdhal.

Menurut Afdhal, masifnya teknologi digital di era ini bertindak sebagai pisau bermata dua yang dapat mengubur tradisi lokal jika tidak disikapi dengan bijak. Peringatan UNESCO pun sangat jelas, “hilangnya peradaban suatu bangsa selalu dimulai dari hilangnya bahasa mereka”.

"Di sini kita perlu kesadaran bersama, baik pemerintah daerah, masyarakat, hingga lingkungan keluarga. Bahasa Bugis bukan hanya sarana berbicara, tetapi juga wadah nilai-nilai budaya yang terkandung dalam paseng (pesan bijak), sureq (naskah kuno), elong (nyanyian tradisi), dan berbagai tradisi lisan lainnya”, lanjutnya.

Ketika penutur asli di lembaga pendidikan kian menyusut dan ruang keluarga berhenti menggemakan bahasa daerah, kita sebenarnya sedang menghitung mundur waktu. Jika dibiarkan mengalir tanpa bendungan penyelamat, kepunahan bahasa Bugis bukan lagi sekadar prediksi buruk di masa depan—ia adalah takdir yang tinggal menunggu waktu untuk menjemput senjanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....