Potret Penjual Tisu Difabel di Perempatan Bone
- 11 Mei 2025 09:52 WIB
- Bone
KBRN, Bone: Di tengah padatnya lalu lintas di perempatan Jalan Wahidin dan Ahmad Yani, Bone, tampak sosok penjual tisu dengan kondisi fisik yang tak sempurna. Ia tak mampu berbicara dan berjalan normal, namun tetap berdiri tegar menawarkan barang dagangannya kepada pengendara yang melintas. Sosok ini menjadi perhatian warga, sekaligus cermin keteguhan hati dalam menghadapi kerasnya hidup.
Marsyanda, warga yang kerap melintas di kawasan itu, mengaku terkesan saat pertama kali melihat penjual tisu tersebut. “Melihat anak-anak yang tergolong difabel tapi masih punya semangat untuk hidup, itu luar biasa. Kita yang normal kadang masih suka mengeluh, sedangkan mereka tetap semangat,” ungkapnya, Minggu (11/5/2025).
Ia juga menilai bahwa perjuangan penjual tisu ini menjadi tamparan bagi masyarakat yang kerap lupa bersyukur. “Kalau kita berada di posisi seperti itu, belum tentu bisa sekuat dia. Keterbatasan tidak membuatnya menyerah,” tambahnya.
Senada dengan itu, Yuandini, warga lainnya, menyebut penjual tisu ini sebagai sosok yang patut diapresiasi. “Dia tidak meminta-minta, tapi memilih untuk bekerja. Saya salut dengan semangatnya. Banyak orang sehat memilih jalan mengemis, tapi dia tidak,” ujarnya.
Keduanya sepakat bahwa perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas seperti penjual tisu tersebut masih minim. Yuandini menegaskan, “Kalau pemerintah benar-benar hadir, seharusnya tidak ada lagi penyandang disabilitas yang harus mencari nafkah di jalan seperti itu.”
Sebagai bentuk dukungan nyata, Marsyanda menyarankan masyarakat agar membeli barang yang ditawarkan, bukan sekadar memberi uang. “Mereka bukan pengemis, mereka hanya ingin dihargai lewat kerja kerasnya,” tuturnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk tetap berkarya. Namun lebih dari itu, menjadi alarm bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih peduli, membuka ruang bagi para difabel agar bisa hidup mandiri dan bermartabat di tengah lingkungan yang inklusif.