Sejarah Awal Masuknya Agama Islam di Bone

  • 28 Feb 2025 06:48 WIB
  •  Bone

KBRN,Bone: Agama Islam pertama kali diterima secara resmi di Kerajaan Bone pada masa pemerintahan Arumpone ke-12, La Tenripale Matinroe ri Tallo. Sebelumnya, Islam telah dikenalkan oleh La Tenriruwa, namun mendapat penolakan dari Ade' Pitue, dewan adat Bone, sehingga ia hijrah ke Bantaeng.

Penerimaan Islam secara resmi membawa perubahan dalam struktur pemerintahan dengan ditambahkannya jabatan Parewa Sara (Pejabat Syariat), yaitu Petta KaliE atau Qadhi, namun posisi Bissu kerajaan tetap dipertahankan. Kerajaan Bone berdiri pada awal abad ke-14 dengan kedatangan Tomanurung ri Matajang MatasilompoE yang menyatukan tujuh komunitas di wilayah tersebut.

Seiring waktu, Bone berkembang menjadi kerajaan yang kuat, terutama di bawah kepemimpinan La Tenrisukki yang memperluas wilayah ke utara hingga berhadapan dengan Kerajaan Luwu. Perjanjian Polo MalelaE ri Unynyi antara Bone dan Luwu menandai akhir konflik dan awal dominasi Bone di wilayah tersebut.

Dilansir dari Wikipedia, Islam mulai masuk ke Bone melalui pengaruh Kesultanan Gowa, yang lebih dahulu memeluk Islam di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin pada 1605. Peran ulama dari Gowa dan aktivitas perdagangan di pesisir turut mempercepat penyebaran Islam di Bone.

Ratu Bone, We Tenrituppu, menjadi pemimpin Bone pertama yang memeluk Islam, meskipun penerimaan Islam secara resmi baru terjadi pada masa Arumpone ke-12, La Tenripale. Setelah Islam diterima secara resmi, struktur pemerintahan Bone mengalami perubahan signifikan. Dewan adat yang disebut Ade' Pitue tetap berfungsi, tetapi peran Parewa Sara ditambahkan untuk mengurus persoalan hukum Islam.

Meskipun terjadi penyesuaian, beberapa tradisi lama seperti keberadaan Bissu tetap dipertahankan sebagai bagian dari sistem sosial dan budaya Bone. Bone mencapai puncak kejayaannya setelah Perang Makassar (1667-1669), yang menyebabkan jatuhnya Kesultanan Gowa.

La Tenritatta Arung Palakka menjadi penguasa tertinggi Bone dan memainkan peran besar dalam menggulingkan Gowa dengan dukungan Belanda. Setelah perang, Bone menjadi kerajaan paling dominan di Sulawesi Selatan dan berada di bawah pengaruh Belanda hingga awal abad ke-19.

Meskipun sempat berada di bawah pengaruh Belanda, Bone terus melakukan perlawanan hingga akhirnya mengalami kekalahan pada 1905 dalam peristiwa Rumpa’na Bone. Perlawanan terhadap Belanda terus berlangsung hingga akhirnya Bone menjadi bagian dari Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945.

Raja Bone ke-13, La Maddaremmeng (1631-1644), memainkan peran penting dalam memperkuat ajaran Islam di Bone. Ia belajar Islam dari Qadhi Bone, Faqih Amrullah, dan mewajibkan rakyatnya untuk menjalankan syariat Islam secara ketat. Salah satu kebijakan pentingnya adalah penghapusan perbudakan dan pemberian hak yang sama bagi mantan budak, menjadikan Bone sebagai kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai Islam secara lebih mendalam.

Rekomendasi Berita