Perjuangan MUA Muda Menembus Batas Tradisi

  • 28 Feb 2025 03:58 WIB
  •  Bone

KBRN,Bone: Berawal dari kecintaannya pada seni dan tari tradisional, Anha If menemukan jalan menuju profesi sebagai makeup artist (MUA). Sejak kecil, ia sering tampil dalam pentas tarian Bugis yang mengharuskannya bisa merias wajah sendiri. Ketimbang menggunakan jasa perias, ia memilih belajar otodidak agar honornya bisa digunakan untuk kebutuhan lain. Perjalanan itulah membawanya bertemu dengan seorang indo botting senior dari Sinjai, yang menjadi inspirasinya untuk lebih mendalami dunia tata rias.

Pada tahun 2015, Anha If memberanikan diri kuliah sambil bekerja sebagai perias. Namun, langkahnya tidak mudah. Saat itu, banyak yang meragukannya karena masih muda. Profesi perias pengantin dalam tradisi Bugis umumnya dipegang oleh indo botting, yaitu perias yang tidak hanya merias, tetapi juga membacakan doa agar pengantin terlihat bercahaya. Indo botting juga biasanya adalah perempuan yang sudah menikah dan berpengalaman. Sementara Ana If saat itu masih remaja yang baru merintis kariernya.

Meski menghadapi banyak keraguan, Anha If tidak menyerah. Ia bertekad membuktikan bahwa kecantikan pengantin bisa dihasilkan tanpa cenningrara atau mantra. “Dulu, banyak yang tidak percaya kalau saya bisa merias pengantin karena saya masih remaja. Tapi saya yakin, kecantikan itu bisa dihasilkan dari teknik rias yang baik, bukan sekadar mantra,” ujarnya saat dikonfirmasi rri.co.id, Jumat(28/2/2025).

Dengan latihan, inovasi, dan ketekunan, ia mulai mendapat kepercayaan dari para klien. Seiring waktu, namanya semakin dikenal di dunia tata rias pengantin, terutama di Sulawesi Selatan. Kini, Anha If telah sukses mendirikan rumah pengantin sendiri. Tidak hanya menyediakan jasa rias, ia juga menawarkan penyewaan baju pengantin, termasuk baju bodo khas Bugis.

Di era digital ini, Anha If memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan usahanya. Ia aktif mengunggah konten makeup di berbagai platform untuk menarik calon pelanggan. “Media sosial sangat membantu saya dalam memperkenalkan jasa rias. Dari situ, banyak klien yang akhirnya mempercayakan riasan mereka kepada saya,” katanya.

Meski telah sukses, Anha If tetap mengutamakan pelayanan. “Kita ini penyedia jasa, bukan penjual produk. Jadi, yang harus dijual adalah pelayanan. Klien harus dibuat nyaman dan dilayani sebaik mungkin,” jelasnya. Dengan prinsip ini, ia terus menjaga kepercayaan pelanggan dan mempertahankan eksistensinya di industri tata rias.

Kesuksesan Anha If menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih impian. Dengan kerja keras, kreativitas, dan ketekunan, siapa pun bisa mencapai kesuksesan, bahkan dalam bidang yang awalnya dianggap bukan untuknya.

Rekomendasi Berita