Waroeng Pink Terapkan Strategi Storytelling untuk Tingkatkan Penjualan

  • 14 Agt 2026 19:32 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Pendiri Waroeng Pink, Hasriningsi Am, S.Sos., SKM., M.Kes. menjelaskan berdiri galerinya sejak April 2026 sebagai wadah kolaborasi untuk membantu sesama pelaku UMKM lokal untuk berkembang bersama. Mengusung filosofi Bugis, sirui menre tessirui no (saling menarik ke atas, bukan saling menarik ke bawah).

“Ungkapan ini mengajarkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan komitmen untuk saling menopang agar bisa maju dan sukses bersama-sama. Galeri ini mengutamakan dan memprioritaskan produk-produk buatan UMKM lokal dibanding snack kiloan”, jelas Hasriningsi dalam Sapa UMKM, Kamis, 13 Agustus 2026.

Dikatakan, Langkahnya juga mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah setempat dan dinas terkait yang rutin mengikutsertakan Waroeng Pink dalam pameran UMKM. “Kehadiran galeri ini sangat membantu para pelaku UMKM yang tidak memiliki outlet sendiri atau tidak sempat menghadiri pameran, karena produk mereka dapat dipromosikan lewat galeri ini”, jelasnya.

Saat ini, Waroeng Pink menampung 20 mitra UMKM dengan total lebih dari 30 varian produk kuliner. Jenis produk yang dipajang sangat beragam, mulai dari kue kering tradisional, kripik pisang, jipang, hingga olahan benno' yang dikemas secara menarik.

Untuk menghindari persaingan internal dengan pelaku UMKM lainnya yang menitipkan produk di galeri,Hasriningsi memberlakukan sistem kurasi yang sehat. “Kalau ada UMKM yang ingin menitipkan produk yang serupa dengan produk yang sudah ada, saya sarankan untuk membuat varian atau jenis produk berbeda”, kata pemilik galeri tersebut.

Hal itu ia lakukan agar pilihan produk di galeri miliknya semakin bervariasi dan seluruh mitra juga mendapatkan porsi rezeki yang adil. “Saya juga bantu promosikan produk teman-teman UMKM supaya bisa sama-sama bangkit dan tidak saling menjatuhkan”, tambah Hasriningsi.

Hasriningsi mengaku salah satu strategi pemasaran yang digunakannya berbasis edukasi dan narasi budaya (storytelling). “Ketika wisatawan atau pembeli dari luar daerah berkunjung, saya menceritakan secara detail tentang nilai sejarah, filosofi, serta keunikan dari kue-kue tradisional yang dijual”, lanjutnya.

Pendekatan ini terbukti sangat efektif meningkatkan ketertarikan konsumen terhadap produk sehingga dapat meningkatkan angka penjualan. “Konsumen yang tadinya tidak mengenal jenis produk tertentu, akan tertarik untuk membeli setelah memahami latar belakang dan manfaatnya”, ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....