Filosofi Getteng dan Sipakatau dalam Kuah Soto Haedar

  • 16 Okt 2025 20:53 WIB
  •  Bone

KBRN,Bone: Bagi Haedar, pemilik Soto Ayam Lamongan di Bone, semangkuk soto bukan sekadar hidangan, melainkan simbol perjuangan hidup dan nilai-nilai luhur Bugis. Dari warung kecil miliknya, ia menyalurkan filosofi getteng, reso, dan sipakatau dalam setiap mangkuk soto yang ia sajikan — memadukan cita rasa Lamongan dengan ketulusan hati orang Bugis.

Ia meyakini bahwa keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan besar, tapi juga dari keberkahan dan kejujuran. “Saya pernah dengar pengusaha besar bilang: berbisnis itu tidak harus untung besar, tapi untung sedikit tapi sering. Saya pegang itu,” ujarnya saat dikonfirmasi RRI.co.id, pada Kamis (16/10/2025).

Prinsip itu membuatnya tidak pelit pada pelanggan. Dengan harga Rp17.000 per porsi lengkap dengan ketupat dan es teh, ia tetap menganggap sebagian sebagai sedekah. “Yang penting berkah, bukan sekadar untung. Kalau berkah, rezeki pasti datang sendiri,” katanya.

Dalam kesehariannya, Haedar juga menerapkan nilai sipakatau — saling menghormati antar manusia — dalam hubungan dengan karyawannya. “Kalau karyawan salah, jangan dimarahi di depan pelanggan. Tegur dengan lembut, supaya dia tidak malu. Itu cara saya,” jelasnya.

Ia percaya suasana kerja yang baik akan berimbas pada pelayanan dan rasa masakan. “Kalau hati kita tenang, rasa masakan juga ikut enak. Orang bisa merasakan keikhlasan itu,” ujarnya.

Filosofi Bugis yang ia jalani tidak hanya memperkuat dirinya, tapi juga menarik simpati pelanggan. Tak jarang, pelanggan datang bukan sekadar makan, tapi ingin menyerap semangat kerja keras dari sang pemilik warung.

“Saya ingin anak muda Bone belajar dari sini: jangan takut mulai dari nol. Terima kritik, belajar dari siapa pun. Karena soto yang orang nikmati hari ini, lahir dari banyak kritik dan doa,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....