Soto Lamongan Haedar, Perpaduan Cita Rasa Jawa Bugis

  • 16 Okt 2025 20:26 WIB
  •  Bone

KBRN,Bone: Menghadirkan cita rasa Jawa di tanah Bugis bukan hal mudah, tapi Haedar, pemilik Soto Ayam Lamongan Haedar, berhasil melakukannya lewat adaptasi rasa yang cermat. Ia menyulap soto khas Lamongan menjadi sajian yang cocok di lidah orang Bone tanpa kehilangan keaslian rasanya.

Awalnya, soto racikannya mendapat banyak masukan dari pelanggan. Salah satunya menyarankan agar soto disajikan dengan ketupat, bukan nasi seperti umumnya soto Lamongan. “Saya pikir-pikir, benar juga. Orang Bone lebih akrab dengan ketupat. Jadi sekarang saya pakai ketupat, bukan nasi,” ujarnya saat dikonfirmasi rri.co.id, Kamis(16/10/2025).

Perubahan sederhana itu justru membuat sotonya makin diminati. Setiap mangkuk soto Haedar kini menjadi simbol perpaduan dua budaya: racikan Jawa dan selera Bugis. “Saya tetap pertahankan rasa aslinya, tapi menyesuaikan sedikit dengan lidah orang sini. Itu kuncinya,” ungkapnya.

Haedar juga menekankan pentingnya konsistensi rasa di tengah naik-turunnya harga bahan pokok. “Kalau bahan naik, jangan kurangi rasa. Lebih baik porsinya dikurangi sedikit, tapi rasanya tetap sama,” tegasnya.

Dalam setiap kuah sotonya, Haedar menyelipkan filosofi sipakatau — saling menghargai, baik terhadap pelanggan maupun karyawan. “Saya tidak mau marah di depan orang banyak. Kalau mau menegur, saya panggil baik-baik. Kita harus saling menghargai,” katanya.

Nilai-nilai Bugis yang dipegangnya membuat suasana di warung terasa hangat. Ia menyebut karyawannya bukan bawahan, tapi partner kerja. “Kalau mereka nyaman, pelanggan juga pasti merasa nyaman,” ujarnya.

Bagi Haedar, aroma soto bukan sekadar penanda lapar, tapi juga wujud perjuangan dan cinta pada budaya lokal. “Soto ini bukan cuma soal rasa, tapi bagaimana saya menggabungkan dua dunia: cita rasa Jawa dan jiwa Bugis di dalamnya,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....