Kenaikan Tajam Harga Plastik Berimbas Luas

  • 10 Apr 2026 18:16 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Pelaku UMKM di Bone mengeluhkan lonjakan harga plastik yang mulai terasa bertahap sejak awal Maret 2026 dan semakin parah menjelang Idul Fitri. Hal itupun membuat para pedagang kecil tertekan karena terjadi kenaikan biaya operasional.

Sam, Pelaku UMKM Bone yang sehari-hari berjualan nasi kebuli itu mengaku harus pasrah dengan kenaikan harga plastik. “Tidak tau kenapa harga plastik-plastik kayak sendok, kantongan, pokoknya semua yang berbahan plastik pasti naik harganya”, ungkapnya kepada rri.co.id, Jumat, 10 Maret 2026.

Sementara itu, warga Bone, Ashir juga turut merasakan imbas kenaikan harga plastik akibat kenaikan harga air minum kemasan yang biasa ia konsumsi. “Jangankan pedagang kecil, kita saja ini konsumen dirasa sekali kenaikan harganya itu plastik”, ujarnya.

Tidak banyak yang tahu, kenaikan tajam harga plastik itu dipicu oleh perang di Timur Tengah, dari laman greenpeace.org dijelaskan, Kenaikan ini ditengarai oleh terganggunya rantai pasok bahan baku plastik, nafta. Nafta merupakan turunan dari minyak bumi dan 70 % nafta dunia didatangkan dari Timur Tengah melalui selat Hormus.

Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, menilai bahwa krisis ini bukanlah hal yang mengejutkan. “Gangguan terhadap rantai pasok plastik dan industri petrokimia adalah konsekuensi dari pembangunan ekonomi berorientasi bahan bakar fosil yang sudah lama diprediksi”, ungkapnya.

Para pelaku industri dan pemimpin dunia sudah sama-sama mengetahui bahwa ketergantungan pada minyak bumi dan plastik sekali pakai sebagai turunannya, adalah bom waktu yang dapat menghancurkan kita semua. Krisis plastik dapat merugikan masyarakat karena berpotensi mendorong harga makanan, minuman, dan kebutuhan harian lain yang bergantung pada kemasan plastik.

Padahal, permintaan atas sistem guna ulang produk-produk rumah tangga sudah banyak disuarakan oleh konsumen selama ini. Survei Greenpeace Indonesia tahun 2021 menunjukkan bahwa hampir 70% responden telah bersedia beralih ke produk dengan sistem isi ulang (refill) dan guna kembali (reuse).

Sayangnya, keengganan industri dan pemerintah untuk berinvestasi pada solusi hijau memaksa konsumen terjebak dalam krisis plastik global yang terjadi saat ini. Masyarakat, yang seharusnya terbebas dari beban rantai pasok industri nan rapuh, mesti ikut menanggung kerugian akibat ketergantungan terhadap plastik yang dirawat oleh industri dan pemerintah.

Krisis ini menunjukkan rapuhnya ketahanan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada bahan bakar fosil dan industri turunannya. Momentum ini harus menjadi titik balik untuk mengurangi plastik sekali pakai, dorong sistem guna ulang, dan percepat transisi untuk keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....