Tumbler Jadi Simbol Gaya Hidup dan Status Sosial
- 10 Jan 2026 13:40 WIB
- Bone
KBRN, Bone : Seiring dengan semakin gencarnya kampanye bebas plastik, penggunaan tumbler sebagai wadah minuman pun kian diminati publik. Tumbler adalah istilah wadah minum yang terbuat dari bahan berkualitas, seperti stainless steel dan kaca.
Kata 'tumbler' terinspirasi dari bahasa Inggris yang artinya 'gelas bisa terbalik’. Bisa jadi hal inilah yang menyebabkan umumnya tumbler punya desain berbentuk tabung dan bisa diletakkan terbalik tanpa perlu takut tumpah.
Berbagai merk lokal dan import pun melirik peluang tersebut dengan mengeluarkan produk botol yang didesain unik dan menarik sehingga tumbler tidak hanya berfungsi sebagai wadah minuman saja. Kini, tumbler telah menjadi simbol gaya hidup modern yang merepresentasikan kepedulian lingkungan, kesehatan, dan identitas diri, terutama di kalangan Milenial dan Gen Z.
Bahkan sebagian masyarakat menjadikan tumbler sebagai penanda status sosial seseorang, semakin mahal tumblernya, maka akan berbanding lurus juga dengan kelas sosialnya. Ironisnya, tren atau merek terbaru justru juga bisa memicu pola hidup konsumtif, padahal tujuan awalnya mengurangi limbah.
Demi mendapatkan validasi dalam sebuah lingkungan atau circle, mereka tak sungkan mengeluarkan budget hingga jutaan rupiah untuk sebuah botol minuman. Fenomena ini menciptakan tren baru yang mendobrak fungsi awal botol minuman dan menjelma menjadi eco-luxury (kemewahan ramah lingkungan), seolah tumbler mahal menjadi 'tiket masuk' pergaulan dan ekspresi diri.
Mahasiswa, Rani mengatakan berangkat dari kesadaran lingkungan (go green), tumbler jadi barang yang prestisius. “Ini sebenarnya melenceng dari konsep ramah lingkungan karena kita justru FOMO dan membuat kita jadi konsumtif karena ikut-ikutan trennya”, jelas Rani saat dikonfirmasi rri.co.id, Sabtu (10 Januari 2026).
Karyawan Swasta, Ridho menilai menenteng tumbler kekinian lengkap dengan sedotan stainless dan totebag memang telah jadi tren di kalangan anak muda. “Tapi rasanya terlalu berlebihan jika kita mengkotak-kotakkan orang hanya dari apa yang dia pakai”, ujarnya.
Menurut Ridho, akan lebih bijak kalau kita membeli barang seperlunya saja, tidak perlu mengeluarkan budget berlebihan hanya untuk sebuah pengakuan. “Padahal niat awalnya kan baik, mengurangi limbah plastik dan investasi untuk masa depan yang lebih sehat”, tegasnya.