Tren Doom Spending Picu Labil Finansial Milenial-Gen Z

  • 21 Des 2025 13:13 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Self-reward seringkali menjadi alasan bagi sebagian orang merealisasikan gaya hidup modernnya. Validasi dan gengsi dari lingkungan pertemanan tanpa sadar membuat kita harus membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Terlebih di era digital saat ini, pengalaman shopping tak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, bahkan semakin memudahkan orang-orang untuk berbelanja secara daring. Di berbagai platform pun setiap bulannya selalu menawarkan promo menarik, mendorong hasrat berbelanja masyarakat seolah tidak terbendung lagi.

Kebiasaan belanja seperti itu membuat kondisi finansial menjadi tidak stabil dan mendorong gaya hidup konsumtif dan hedon kian mewabah di kalangan milenial dan gen Z. Hal ini pun dikenal dengan istilah doom spending. Sepeti dikutip dari Klik Dokter, doom spending sering digunakan untuk menggambarkan fenomena seseorang melakukan pembelian atau konsumsi sesuatu secara berlebihan di tengah ketidakpastian ekonomi atau krisis pribadi.

Istilah ini mengacu pada perilaku belanja yang tidak rasional, kurangnya kontrol diri, dan sering kali didorong oleh emosi negatif, seperti kecemasan, stres, atau ketakutan akan masa depan. Doom spending dinilai sebagai cara seseorang mengatasi rasa pesimisme yang menyelimuti pandangan mereka terhadap kondisi ekonomi dan masa depan yang suram.

Dalam kondisi seperti ini, banyak orang, terutama dari generasi yang lebih muda, merespons ketakutan dan stres dengan berbelanja, meskipun kondisi keuangan mereka sebenarnya tidak mendukung. Hal ini menciptakan ilusi sementara bahwa konsumsi dapat mengatasi kecemasan dan stres, padahal justru memperparah situasi finansial dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita