Maddate, Ritus Spiritual Untuk Dekat Dengan Allah SWT
- 30 Agt 2025 06:46 WIB
- Bone
KBRN, Bone: Maddate atau marrate adalah ritus spiritual berupa dzikir yang dilakukan Tarekat Khalwatiyyah Samman sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Istilah yang digunakan oleh masyarakat Bugis-Makassar ini merupakan praktik zikir untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan melibatkan pengarahan dan penyerahan seluruh panca indra, anggota tubuh, pikiran, dan hati kepada Allah SWT, dan seringkali dilakukan dengan melantunkan lafal-lafal Allah.
Wakil Pimpinan Pesantren Al-Ikhlas Ujung, Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I. menjelaskan awalnya maddate ialah perilaku beragama yang dulunya sudah pernah dilakukan oleh para sufi dan seiring perjalanan waktu selalu dilakukan sehingga menjadi kebiasaan bagi pecinta zikir dan keadaan spiritual.
"Di Provinsi Sulawesi Selatan ini, lokasinya ada di Pattene, Kab. Maros. Di situ ada banyak ulama atau Panrita dan khalifah kita yang memberikan tata cara melakukan itu," jelas ustaz Asriady saat dikonfirmasi rri.co.id, Jumat (29/8/2025).
Ustadz Asriady mengatakan maddate seharusnya jangan hanya ditinjau dari aspek luarnya saja, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman. “Sebenarnya yang dilakukan oleh mereka itu berzikir dan berwirid kepada Tuhan dengan menggerakkan badannya. Yang salahnya, kalau disitu ada oknum yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. Itu sudah salah mi," ungkapnya.
Jika kita telusuri lebih jauh, menurut ustadz Asriady, maddate itu spiritualitas yang diwujudkan melalui aktivitas zikir secara lahir dan batin yang bersumber dari Al Qur’an dan hadis. Namun, caranya terkadang berbeda karena mereka ada tarekat-tarekat tersendiri, tapi selama itu muktabarah dan tidak sesat maka boleh dilakukan.
“Kalau di daerah ta biasa ki lihat, jangan ki langsung ikut-ikutan karena yang ikut-ikutan itulah yang biasanya sesat karena sebenarnya ada proses panjangnya. Mereka ditalqin, dibaiat, lalu ada zikir yang diamalkan bahkan pada waktu-waktu tertentu, mereka tidak sadar berzikir. Itu dikenal dengan istilah al-fana' atau semacam ekstasi spritual”, tambahnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk beragama sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis, bukan berdasarkan tontonan agar tidak salah arah. “Dan jangan juga kita terlalu gampang menyalahkan, mem-bid’ahkan atau bahkan menyesatkan orang. Nabi Muhammad saw. lahir untuk mengislamkan orang kafir, jangan kita lahir dan hadir malah mengkafirkan orang Islam”, tegasnya.
Terpisah, Muhammad Irham, penganut Tarekat Al-Syadziliyyah, Al-Muhammadiyah, dan Khalawatiyyah mengungkapkan pada hakikatnya, gerakan-gerakan zikir yang dilakukan seorang waliyullah, Mursyid tarekat itu muncul dengan sendirinya sebagai rasa kenyamanan dan kenikmatan spiritual. “Gerakan di setiap tarekat berbeda-beda, seperti Tarekat Rumiyyah di Turki dengan gerakan zikir sambil berputar. kenyamanan zikir yang mereka rasakan, tak jarang membuat mereka larut sehingga tidak terhitung jumlah dan durasi zikirnya. Dalam ilmu spiritual, orang yang berada dalam keadaan ini disebut, aasyiq. Serupa dan senada dengan bahasa kita, asyik”, pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....