Musim Kemarau, 314 Hektare Sawah di Sinjai Barat Terancam Gagal Panen
- 17 Sep 2026 15:02 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Sinjai - Musim kemarau mengancam 314 hektare areal persawahan di Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, mengalami puso dan gagal panen akibat berkurangnya pasokan air ke saluran irigasi. Kondisi ini terjadi di Kelurahan Tassililu serta Desa Balakia, Turunan Baji, Bontosalama, Gunung Perak, Terasa, dan Arabika.
Analis Kebencanaan BPBD Sinjai, Andi Oktave Amir, mengatakan penurunan curah hujan membuat ketersediaan sumber air untuk pertanian semakin berkurang. Tanaman padi di sejumlah areal mulai kekurangan air dan membutuhkan suplai darurat agar tidak mengalami kerusakan lebih luas.
“Berdasarkan hasil pemantauan dan informasi yang diterima oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sinjai, telah terjadi kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Sinjai yang berdampak terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian dan kebutuhan air bersih,” ujar Andi Oktave, Rabu 16 September 2026.
Berdasarkan pendataan sementara BPBD Sinjai, 314 hektare sawah tersebut berpotensi kehilangan produksi hingga sekitar 1.758,4 ton gabah kering panen (GBK) apabila seluruh areal mengalami gagal panen. Perhitungan itu menggunakan asumsi produktivitas rata-rata 5,6 ton GBK per hektare.
Untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih dapat dipertahankan, BPBD Sinjai mendorong penyediaan air secara darurat dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemompaan air dari sungai menuju saluran irigasi.
“Untuk area persawahan yang terancam puso dan membutuhkan suplai air itu di Kecamatan Sinjai Barat. Adapun upaya yang kami lakukan untuk area persawahan yaitu kebutuhan pompa, yang akan menyuplai air di sumber mata air menuju area irigasi, menuju saluran irigasi,” jelasnya.
Selain pompa, kebutuhan mendesak lainnya berupa selang atau pipa distribusi serta bahan bakar untuk mendukung operasional pompa. Pemerintah juga melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, Dinas Pertanian, serta instansi terkait untuk menentukan prioritas lahan yang membutuhkan suplai air.
BPBD Sinjai juga telah melaporkan kondisi kekeringan tersebut kepada BPBD Provinsi dan BNPB. Sementara Dinas Pemadam Kebakaran turut melakukan penyiraman pada sejumlah areal persawahan sebagai langkah sementara untuk mempertahankan kondisi tanaman padi.
Kekeringan juga berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat di Desa Saotanre, Kecamatan Sinjai Tengah. Di Dusun Lappa dan Dusun Saukang, sekitar 115 kepala keluarga serta tiga masjid mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama musim kemarau.
“Sementara untuk kebutuhan air bersih di Salohe, sementara kami komunikasikan dengan sektor terkait, khususnya PDAM. Ada 115 KK yang membutuhkan distribusi air bersih,” kata Andi Oktave.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BPBD bersama pemerintah desa dan instansi terkait menyiapkan distribusi air menggunakan mobil tangki serta tandon sebagai tempat penampungan sementara. Pemenuhan air bersih juga diarahkan untuk kebutuhan tiga masjid yang terdampak kekeringan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....