Mahasiswa Jepang Pelajari Mangrove Tongke-Tongke dan Potensi Perikanan Sinjai

  • 01 Sep 2026 10:19 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Sinjai - Kabupaten Sinjai menjadi lokasi pembelajaran bagi 13 mahasiswa magister asal Hiroshima, Jepang, untuk melihat langsung pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dan potensi ekonomi kelautan. Kunjungan tersebut menyoroti kawasan mangrove Tongke-Tongke serta aktivitas perdagangan ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lappa.

Para mahasiswa tersebut dibawa Pusat Studi Asia Tenggara Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam kunjungan ke Kabupaten Sinjai, Senin 31 Agustus 2026 dan diterima langsung oleh Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif di Rumah Jabatan Bupati. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta dari Jepang untuk melihat langsung pengelolaan mangrove dan aktivitas perikanan yang berkembang di masyarakat.

Kepala Pusat Studi Asia Tenggara Unhas, M. Iqbal Djawad, mengatakan kawasan mangrove Tongke-Tongke dipilih karena memiliki karakteristik yang menarik untuk dipelajari. Pengelolaan kawasan tersebut sejak awal berkembang dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.

“Tongke-Tongke itu sudah terkenal di seluruh dunia karena merupakan salah satu kawasan pengelolaan hutan mangrove yang berbasis masyarakat sejak awal perkembangannya,” ujar M. Iqbal Djawad.

Menurut Iqbal, pengelolaan yang dilakukan secara berkelanjutan membuat kawasan mangrove Tongke-Tongke terus berkembang hingga saat ini. Kondisi tersebut menjadi contoh bagaimana keterlibatan masyarakat dapat berperan dalam menjaga sekaligus mengembangkan kawasan pesisir.

Selain mangrove, rombongan juga mengunjungi kawasan Lappa, khususnya tempat pelelangan ikan yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan ikan terbesar di Sulawesi Selatan. Lokasi ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengenal keragaman hasil laut yang dipasarkan masyarakat Sinjai.

Iqbal menjelaskan, pengalaman para mahasiswa selama berada di Tokyo lebih banyak berkaitan dengan komoditas ikan tuna. Melalui kunjungan ke TPI Lappa, mereka dapat melihat langsung berbagai jenis ikan yang ditangkap dan diperdagangkan masyarakat. “Kalau di Tokyo, mereka hanya melihat ikan tuna. Di pelelangan Lappa nanti mereka akan melihat banyak jenis ikan,” jelasnya.

Kunjungan ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik bagi para mahasiswa, tetapi juga memperkenalkan potensi Sinjai kepada peserta dari luar negeri. Pengelolaan mangrove berbasis masyarakat dan aktivitas perikanan Lappa menjadi dua potensi daerah yang dinilai memiliki nilai pembelajaran sekaligus ekonomi.

Bagi Sinjai, kunjungan tersebut menjadi peluang memperkenalkan praktik pengelolaan lingkungan dan potensi kelautan daerah ke lingkungan akademik internasional. Pengalaman lapangan yang diperoleh mahasiswa diharapkan dapat memperluas perspektif mengenai pengelolaan pesisir dan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....