Dinkes Bone Gencarkan Tracing TBC, Sasar 2.990 Jiwa
- 23 Jul 2026 14:34 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Dinas Kesehatan Kabupaten Bone menggencarkan penelusuran atau tracing Tuberkulosis (TBC) dengan menyasar 2.990 jiwa di 299 lokus yang tersebar pada 27 kecamatan. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus TBC sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kabupaten Bone menuju eliminasi TBC.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bone, dr. Kasmawar Abbas DK, mengatakan gerakan serentak tracing TBC tersebut telah diluncurkan pada 13 Juli 2026 oleh Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman. Kegiatan ini diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk memperluas jangkauan skrining di tengah masyarakat.
Menurutnya, Kabupaten Bone diperkirakan masih memiliki sekitar 4.400 kasus TBC yang harus segera ditemukan dan ditangani. "Kasus tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan, dengan sejumlah wilayah yang memiliki tren kasus cukup tinggi seperti kawasan Kota Bone, Kajuara, Cenrana, dan Kahu," ungkapnya, Rabu 22 Juli 2026.
dr. Kasmawar mengatakan percepatan penemuan kasus menjadi penting karena semakin cepat penderita teridentifikasi, maka penularan dapat segera dicegah. Pasien juga dapat lebih cepat memperoleh pengobatan sehingga risiko kecacatan dan kematian akibat TBC dapat ditekan.
"Bagian juga percepatan penemuan kasus TBC, dalam rangka Bone menuju Eliminasi TBC, cepat ditemukan, cepat mendapatkan obat dan menurunkan risiko cacat dan kematian karena TBC," ujarnya.
Ia menjelaskan, TBC masih menjadi persoalan kesehatan serius secara nasional. Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia, sementara Sulawesi Selatan termasuk provinsi dengan beban TBC tinggi dan Kabupaten Bone menjadi salah satu daerah dengan kontribusi kasus terbesar di tingkat provinsi.
Dinkes Bone pun terus mendorong intervensi secara cepat dan masif melalui tracing yang dilakukan langsung di masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu menemukan penderita yang belum terdiagnosis sehingga dapat segera mendapatkan pengobatan sekaligus memutus mata rantai penularan.
dr. Kasmawar menambahkan, jika kasus TBC terlambat ditemukan, penyakit tersebut berpotensi menular lebih luas dan meningkatkan angka kesakitan maupun kematian. Kondisi itu juga dapat berdampak terhadap kualitas hidup dan produktivitas masyarakat serta menimbulkan beban sosial dan ekonomi bagi keluarga penderita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....