Libur Lebaran, Hotel di Cisarua ini Catatkan Okupansi Diatas 90 Persen

  • 12 Apr 2025 10:31 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor: Momen libur lebaran yang lalu, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, banyak didatangi masyarakat yang hendak menginap dan berwisata. Tingginya antusias masyarakat itu tercermin dari kepadatan lalu lintas yang masuk ke Puncak sejak H-7 hingga H+7 Idul Fitri. Kesempatan ini pun tidak dilewati bagi insan perhotelan dan pariwisata, untuk meraup keuntungan disaat musim liburan.

Hotel Manager Royal Safari Garden, Dody Saputro mengungkapkan, momen libur lebaran masih bisa dimanfaatkan insan perhotelan untuk menarik konsumen menginap dan berwisata. Kinerja penjualan kamar di hotelnya saat libur lebaran kemarin sangat positif, bahkan okupansi atau tingkat keterisian kamarnya bisa mencapai hingga 100 persen.

“Saat libur lebaran memang peak season yang bagus untuk menaikan harga karena memang demand nya sudah tinggi, walaupun kita terbentur dengan isu efisiensi dari pemerintah tetapi daerah Puncak kan pangsa pasarnya saat liburan itu individu untuk berwisata disitu kita bisa memainkan harga high season. Okupansi kita selama libur lebaran kemarin itu sekitar 90 hingga 100 persen,” ungkap Dody Saputro, Jumat (11/4/2025).

Untuk menjaga hasil positif itu, Dody mengatakan pihaknya akan menyesuaikan harga sesuai dengan kondisi pasar. Selain itu, terdapat paket-paket menarik yang ditawarkan kepada pengunjung, untuk memberikan kesan dan pengalaman yang menarik selama menginap di hotelnya.

“Kita menjaga harga kalau di hotel itu kan ada dynamic rate ya yang tidak konstan kita terapkan fluktuasi saja, saat high season kita naikan harganya, saat low season kita juga turunkan harganya. Kita juga buatkan paket menginap sambil wisata yang menarik untuk masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya Sekertaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor, Boboy Ruswanto menyebut bahwa selama libur lebaran hingga H+5, okupansi perhotelan di kawasan Puncak mencapai 70 persen. Meski masih cukup positif, namun angka ini menurutnya menurun sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya. Ia menduga penurunan ini disebabkan adanya penurunan daya beli masyarakat.

“Angka ini berbeda dengan tahun lalu yang bisa mencapai 80 hingga 90 persen. Kemungkinan (penurunan ini) spending power atau daya beli yang menurun,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....