81 Tahun Indoensia Merdeka, Api Belum Padam Semangat dan Perjuangan Dilanjutkan
- 18 Agt 2026 09:16 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Di lereng Gunung Salak, di pasar-pasar tradisional Bogor, atau di pinggir Ciliwung yang sering banjir, gotong royong masih bernapas. Tapi pertanyaannya: apakah kita masih ingat caranya?
Pengurus Dewan Harian Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kota Bogor, Taufik Hassuna, mengutarakan pandangannya mengenai kemerdekaan yang sudah diraih Indonesia selama 81 tahun, sejak para pendahulu kita merebut kemerdekaan di tengah jeritan bumi pertiwi. Ia berpandangan setiap tahun, saat sang Merah Putih berkibar, ada satu kebenaran yang kembali muncul yakni, kemerdekaan bukanlah hadiah yang tinggal dinikmati. Kemerdekaan adalah utang yang harus terus dilunasi dengan karya, dengan pengorbanan, dan dengan semangat kebersamaan.
Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah buah terbesar dari rangkaian panjang perjuangan bangsa Indonesia demi cita-cita menjadi bangsa yang besar, berdaulat, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Nilai-nilai kejuangan yang diwariskan — patriotisme, semangat pantang menyerah, rela berkorban, percaya pada kekuatan diri sendiri, anti penjajahan, dan rasa harga diri bangsa — bukanlah artefak museum yang harus disimpan rapi dalam kaca. Mereka adalah napas yang harus terus dihirup setiap generasi.
Di era globalisasi yang serba cepat ini, tantangan yang dihadapi memang berbeda dari masa lalu. Gejolak konflik di negeri-negeri lain, kerusakan lingkungan, politik identitas, narkoba, dan berbagai problem internal lainnya menuntut cara baru dalam merespons. Namun esensinya tetap sama: bangsa-bangsa yang menjaga ingatan akan asal-usul perjuangannya cenderung mampu melangkah maju dengan lebih pasti. Di situlah letak relevansi proklamasi kemerdekaan dengan situasi saat ini.
Makna proklamasi juga menjadi momentum untuk membudayakan kembali nilai-nilai luhur tersebut. Bukan sekadar upacara, bukan sekadar pidato, tapi sebuah kesadaran kolektif bahwa kita adalah bangsa pejuang, bangsa beradab, dan bangsa yang bertuhan seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alenia pertama. Nilai-nilai perjuangan yang dulu digelorakan generasi 45 harus dibudayakan kembali jika bangsa Indonesia ingin meraih cita-citanya menjadi bangsa yang besar dan sejahtera.
Lantas, bagaimana gotong royong bisa menjawab tantangan-tantangan itu? Gotong royong bukan hanya soal kerja bakti membersihkan selokan atau membantu tetangga yang sedang kesulitan. Ia adalah strategi kolektif: mengembalikan rasa solidaritas yang terkikis oleh individualisme, membangun jaringan saling percaya yang sulit diretas oleh propaganda divisive, dan menciptakan ikatan sosial yang membuat masyarakat tangguh menghadapi bencana maupun konflik. Dari sinilah gotong royong relevan, bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai strategi keberlangsungan bangsa.
Karena pada akhirnya, mimpi para pendahulu tentang Indonesia yang besar, berdaulat, dan sejahtera tidak akan pernah terwujud tanpa semangat gotong royong. Kemerdekaan baru bermakna sepenuhnya ketika kita bersama-sama membangunnya, dengan nilai yang telah diwariskan sejak turun temurun itu.
Di tanggal 17 Agustus ini, marilah kita tidak hanya merayakan. Kita juga harus merenung: apa yang sudah kita berikan untuk negeri? Dan bagaimana kita bisa meneruskan api perjuangan yang nyaris tak pernah padam itu?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....