Membangun Budaya Digital Sehat: Ruang Publik Bukan Panggung Konflik
- 11 Jun 2026 20:06 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Praktisi Perlindungan Anak, Literasi Media dan Penyadaran Bahaya Pornografi, Azimah Subagijo, memberikan pandangan terkait beberapa waktu belakangan ini, masyarakat menyaksikan berbagai konflik pribadi para pesohor yang berlangsung terbuka di ruang digital. Diantaranya polemik pasca perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah serta Georgio antonio (RO VS SGO), sebelumnya perseteruan keluarga Ahmad Dhani, konflik antara Inara Rusli yang menjadi orang ketiga dari pasangan Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa, hingga berbagai isu hubungan di luar nikah lainnya yang menyeret nama mantan gubernur Jawa Barat. Konflik rumah tangga, saling sindir, klarifikasi, pembongkaran aib, hingga perdebatan mengenai anak menjadi konsumsi publik yang terus berulang.
Perkembangan terbaru terkait RO VS SGO misalnya, bahkan menunjukkan bagaimana persoalan keluarga semakin melebar ke ruang digital. Mulai dari perdebatan mengenai hak asuh dan nafkah anak, saling sindir dan merendahkan, hingga aktivitas anak dalam siaran langsung media sosial. Terlepas dari siapa yang benar atau salah, satu hal yang perlu menjadi perhatian kita adalah semakin kaburnya batas antara ruang privat dan ruang publik. Fenomena ini bukan lagi sekadar gosip selebriti. Ia mencerminkan perubahan budaya komunikasi di era digital. Terutama ketika persoalan pribadi tidak lagi diselesaikan di ruang keluarga, tetapi dipertontonkan kepada jutaan orang melalui media sosial.
Anak Menjadi Korban yang Tak Terlihat
Padahal sesungguhnya, di balik setiap konflik yang viral, sering kali terdapat anak-anak yang menjadi korban yang tak terlihat. Mereka tidak hanya menghadapi persoalan keluarga, tetapi juga harus hidup dengan jejak digital yang dapat diakses siapa saja dan kapan saja. Setiap pemberitaan, unggahan, komentar netizen, maupun video yang beredar hari ini, dapat menjadi beban psikologis bagi mereka di masa depan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, anak-anak kini tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari konten. Aktivitas anak yang ditampilkan secara berlebihan di media sosial, termasuk melalui siaran langsung, membuka risiko hilangnya privasi, perundungan digital, hingga eksploitasi yang sering kali tidak disadari orang tua. Padahal anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang tanpa tekanan menjadi tontonan publik.
Dari Konflik Selebriti hingga Krisis Literasi Media
Fenomena ini sesungguhnya merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar: krisis literasi media. Algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang memancing emosi, kontroversi, dan sensasi. Hal ini mengakitakan, ruang digital dipenuhi pertengkaran, ujaran kasar, pembongkaran aib, dan eksploitasi kehidupan pribadi.
Paparan yang terus-menerus membuat masyarakat perlahan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Anak-anak dan remaja belajar bahwa konflik dapat diselesaikan melalui media sosial, bahwa penghinaan adalah bagian dari komunikasi, dan bahwa kehidupan pribadi layak dipertontonkan demi perhatian publik. Inilah proses normalisasi yang berlangsung perlahan namun berbahaya. Untuk itu penting kita mengantisipasinya.
Orang Tua dan Generasi Muda Jangan Terlena
Kasus-kasus yang viral belakangan ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Pertanyaannya bukan siapa yang menang dalam konflik tersebut, melainkan nilai apa yang sedang dipelajari anak-anak kita dari semua yang mereka lihat setiap hari?Mengingat pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas karakter generasi yang akan mewarisi dan menggunakannya.
Oleh karena itu, orang tua jangan terlena karena merasa aman anak berada di rumah atau memiliki prestasi akademik yang baik. Padahal ancaman terbesar saat ini sering kali masuk melalui layar gawai yang berada di tangan anak selama berjam-jam setiap hari. Karakter anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan orang tua, tetapi juga oleh apa yang mereka lihat, dengar, dan konsumsi secara berulang.
Orang tua perlu menjadi pendamping digital, bukan sekadar pengawas, antaralain melalui komunikasi yang terbuka, mengajarkan berpikir kritis terhadap informasi yang beredar, menjadi teladan dalam menggunakan media sosial secara bijak, dan memperbanyak interaksi langsung dalam keluarga tanpa gawai. Di sisi lain, generasi muda juga perlu menyadari bahwa tidak semua yang viral layak ditiru. Sebelum mengunggah sesuatu, penting untuk bertanya: apakah ini benar, bermanfaat, perlu, dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain?
Penutup: Mari Membangun Budaya Digital yang Sehat
Persoalan yang kita hadapi hari ini bukan semata soal teknologi, melainkan soal budaya. Ketika konflik keluarga menjadi hiburan, ketika sensasi lebih menarik daripada substansi, dan ketika validasi publik menjadi ukuran kebahagiaan, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kualitas ruang digital, tetapi juga karakter generasi mendatang.
Untuk itu perlu keterlibatan semua pihak untuk mengantisipasinya. Keluarga, sekolah, kampus, media, komunitas, dan pemerintah perlu bersama-sama membangun budaya digital yang sehat. Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami dampak sosial, psikologis, dan moral dari setiap aktivitas di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....