Guru Besar IPB Soroti Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Bertenaga Sampah

  • 08 Apr 2026 12:35 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Rencana pemerintah yang akan membangun proyek pembangkit listrik yang bersumber dari sampah di TPPAS Galuga Kabupaten Bogor mendapat banyak respon positif dari banyak pihak. Mengolah sampah menjadi energi adalah solusi strategis mengurangi tumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi baru dan terbarukan.

Guru Besar IPB University yang juga Ketua Divisi Teknik Lingkungan, Prof. Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc menjelaskan jika kunci pengelolaan sampah berawal dari tingkat yang paling dasar yakni pemilahan sampah ditingkat rumah tangga.

“Selama pemilahan sampah dibantu masyarakat dari tempat asal , Kawasan Pendidikan perkantoran rumah sakit , restoran maka produksi listrik akan efektif dan efisien , dan pemilahan sampah dari tempat asal adalah factor kunci,” ujar prof. Arief Sabdo, Rabu 8 April 2026.

Dalam Undang-Undang 18 tahun 2008 regulasi pengelolaan sampah rumah tangga dilakukan ditingkat rumah tangga, namun penerapannya di lapangan ternyata masih jauh dari harapan. Jika teknologi pengelolaan sampah menjadi listrik menerapkan teknologi lebih maju maka metode pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dapat dianulir.

Guru besar IPB University itupun mengambil contoh metode pengolahan sampah menjadi listrik di Benowo Surabaya Jawa Timur. Menurutnya lokasi pengelolaan sampah menggunakan energi listrik di lokasi tersebut dapat dijadikan rujukan bagi tata Kelola sampah menjadi energi listrik.

“Di TPA Benowo Surabaya , bahan baku sampah yang dihasilkan 1600 sampai dengan 1800 Ton perhari mampu menghasilkan listrik 12 Megawat atau 12 juta watt, kalau rata rata sampah yang masuk 1700 Ton saja perhari maka efisiensinya 7 watt per kilogram jika teknologi yang didatangkan nanti lebih baik dari Surabaya maka kota kota lain dapat menjadikan refrensi awal, saya mendengar untuk saat ini teknologinya lebih baik dari yang di Surabaya,” tambahnya.

Tantangan lainnya adalah karakteristik sampah di Indonesia dipegang plts di Indonesia tantangan nya adalah curah hujan yang tinggi berkisar antara 3500 hingga 5000 milimeter per tahun. Kondisi cuaca itupun harus menjadi catatan dalam penyediaan bahan baku sampah untuk listrik.

“Ada jurnal yang menghitung curah hujan rata rata khususnya di Bogor itu sekitar 3900 sampai dengan 4000 milimeter per tahun ini mengakibatkan tingginya kadar air pada sampah menjadi tinggi dan menurunkan efisiensi sampah listrik yang akan diproduksi,” tutupnya.

Di TPAS Galuga Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor yang akan menjadi lokasi utama proyek PSEL memiliki kapasitas 1.500 ton sampah per hari (500 ton dari Kota Bogor dan 1.000 ton dari Kabupaten Bogor). Pemenang Lelang tender internasional perusahaan asal Tiongkok (Weiming Group). Didukung penuh oleh pemerintah pusat melalui lembaga investasi Danantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....