Posisi Gianni Infantino di FIFA Tertekan, Dukungan jelang Pemilihan Mulai Rontok

  • 21 Agt 2026 10:01 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA menghadapi tekanan yang semakin kuat menjelang pemilihan presiden pada Maret 2027. Sejumlah federasi sepak bola nasional dan pejabat penting FIFA mulai menarik dukungan, sementara UEFA, AFC, dan Concacaf menyuarakan kritik terhadap kepemimpinannya.

Mengutip kabar dari Reuters, tekanan tersebut menguat setelah muncul pembahasan mengenai kemungkinan digelarnya mosi tidak percaya terhadap Infantino. Jika diwujudkan, langkah tersebut dapat berujung pada Kongres Luar Biasa FIFA, meskipun tidak terdapat ketentuan khusus dalam statuta FIFA mengenai mekanisme mosi tidak percaya terhadap presiden.

Salah satu pemicu terbaru adalah berakhirnya hubungan kerja FIFA dengan Chief Operating Officer Kevin Lamour pada 17 Agustus 2026. Lamour sebelumnya mengkritik rencana FIFA untuk membuka sebagian kepentingan komersial terkait hak Piala Dunia dan turnamen FIFA kepada investor swasta.

Kepergian Lamour kemudian mendorong Wakil Presiden FIFA sekaligus anggota Dewan FIFA asal Hungaria, Sandor Csanyi, menarik dukungannya terhadap Infantino. Dalam surat yang dilihat Reuters, Csanyi menyebut kepergian Lamour sebagai puncak dari kekecewaannya terhadap kepemimpinan FIFA.

Selain Csanyi, sejumlah tokoh sepak bola juga menyampaikan keberatan terhadap kepemimpinan Infantino. Presiden UEFA Aleksander Ceferin, Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, dan Presiden Concacaf Vittorio Montagliani termasuk pihak yang mengkritik cara FIFA menangani rencana investasi tersebut.

Dukungan dari sejumlah federasi nasional juga mulai berkurang. Wales, Montenegro, Israel, dan Selandia Baru termasuk federasi yang dilaporkan telah menarik atau menyatakan tidak lagi memberikan dukungan terhadap pencalonan Infantino untuk periode berikutnya.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan rencana komersial FIFA, tetapi juga berkembang menjadi perdebatan mengenai transparansi dan tata kelola organisasi. UEFA, AFC, dan Concacaf bahkan mempertimbangkan langkah untuk mendorong Kongres Luar Biasa guna membahas masa depan kepemimpinan FIFA.

Berdasarkan statuta FIFA, Kongres Luar Biasa dapat diwajibkan apabila sedikitnya 20 persen dari 211 asosiasi anggota FIFA mengajukan permintaan tertulis. Artinya, sedikitnya 43 anggota perlu mendukung permintaan tersebut agar Dewan FIFA berkewajiban menyelenggarakan Kongres Luar Biasa dalam jangka waktu yang ditentukan.

Meski menghadapi tekanan dari sejumlah wilayah, Infantino masih memiliki basis dukungan yang kuat. Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan atau CONMEBOL masih berada di pihaknya, sementara beberapa asosiasi sepak bola nasional juga telah menyatakan dukungan terhadap pencalonannya.

Infantino tetap menyatakan keinginannya untuk maju dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027 untuk periode 2027-2031. Hingga kini belum ada kandidat penantang yang secara resmi mengumumkan pencalonannya, sehingga peta persaingan masih dapat berubah menjelang proses pemilihan.

Situasi tersebut membuat perjalanan Infantino menuju pemilihan mendatang tidak hanya menjadi persoalan perebutan suara. Persoalan kepercayaan, transparansi, tata kelola, serta hubungan antara FIFA dengan konfederasi dan asosiasi anggotanya kini turut menjadi bagian penting dalam dinamika kepemimpinan sepak bola dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....